Berita Wonogiri Terbaru

Berkah Hujan Empat Hari Terakhir di Paranggupito Wonogiri: Tolong Warga yang Kesulitan Air

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah daerah di Wonogiri diguyur hujan deras, salah satunya di wilayah Kecamatan Paranggupito.

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi hujan 

Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang, Sugiyarto mengatakan, cuaca ekstrem masih akan terjadi di Solo Raya, yang diperkirakan terjadi hingga pertengahan Juli mendatang.

Baca juga: Kisah Keresahan Petani Tembakau Boyolali di Kala Intensitas Hujan Tinggi : Hasil Panen Rawan Rusak

Baca juga: Bak Hujan di Tengah Kemarau, Sragen Dapat 10 Ribu Vaksin di Tengah Label Zona Merah & Corona Meroket

"Untuk saat ini, potensi terjadi cuaca ekstrem masih besar (terjadi), hampir terjadi di beberapa wilayah di Jawa Tengah, khususnya Solo Raya," jelasnya kepada TribunSolo.com, Selasa (29/6/2021).

Cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan terjadi, yakni potensi hujan lebat, dengan disertai angin dan petir.

Adanya cuaca ekstrem di Solo Raya, juga mendapat pengaruh dari fenomena global yang saat ini terjadi.

"Ada peningkatan temperatur di wilayah kutub utara, hal itu menyebabkan transfer panas yang ada menuju equator, sehingga suhu permukaan laut di sekitar Jawa Tengah masih tetap tinggi," jelasnya.

Baca juga: Pasutri di Ogan Ilir 7 Tahun Tinggal di Kandang Ayam: Kalau Hujan Bukan Bocor Lagi, tapi Air Jatuh

"Siklonal yang terjadi di wilayah barat daya Sumatera masih kuat, sehingga menyebabkan massa udara berkumpul di wilayah Jawa," tambahya.

Dengan begitu, maka awan akan terbentuk dengan mudah.

"Apabila terkena sinar matahari yang sebentar saja, penguapan akan mudah terjadi, sehingga potensi tumbuhnya awan dan hujan cukup tinggi," paparnya.

Untuk itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem, yang dapat terjadi kapan saja. 

Kabut Tebal di Solo

Pemandagan di Kota Solo pagi ini diselimuti kabut tebal, Selasa (29/6/2021). 

Sebuah pemandangan yang sedikit berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya. 

Kabut yang turun menyebabkan jarak pandang di jalan raya semakin pendek. 

Baca juga: Sebelum Merapi Semburkan Awan Panas, Warga Klaten Lihat Kabut Tebal dan Suara Gemuruh

Baca juga: Lagi Asyik Pesta Miras, 17 Pemuda Ini Kalang Kabut saat Digerebek Petugas Kepolisian

Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Ahmad Yani Semarang, Giyarto mengatakan, fenomena tersebut merupakan hal yang biasa terjadi. 

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved