Berita Klaten Terbaru

Tembakau dari Klaten Ternyata Disukai Perusahaan Rokok Eropa hingga Amerika

Puluhan ton tembakau basah di Kabupaten Klaten siap dipanen, Sabtu (28/8/2021). Nantinya, hasil panen tersebut akan diekspor ke luar negeri.

TribunSolo.com/Mardon Widiyanto
Para Petani Tembakau sedang mengambil hasil panen, di Kebun, tepatnya di Desa Kalikotes, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, Sabtu (28/8/2021). 

Musim panen tembakau tersebut sekitar September sampai Januari.

"Tembakau punya peluang ekspor tinggi, masalah kendala, kita tidak bermasalah karena pasar sudah komplit," pungkasnya.

Petani Tembakau Boyolali 

Tingginya curah hujan yang melanda Kabupaten Boyolali, ternyata membuat para petani tembakau menjadi resah.

Di Banyudono, Boyolali mulai ketakutan karena komoditas utama mereka yaitu tembakau terancam rusak.

Seperti yang dialami oleh Tuwuh, petani tembakau asal Desa Ngaru-Aru, yang menceritakan bahwa tanaman yang usianya kurang dari dua minggu rentan untuk rusak.

Kerusakan itu timbul akibat tingginya volume air dan menyebabkan batang dan bagian tanaman lainnya membusuk.

Baca juga: Kisah Seorang Petani Dijanjikan Jersey Inter Milan Lengkap Tanda Tangan Pemain oleh Erick Tohir

Baca juga: Tanpa Sebab Jelas, Petani di Aceh Kena Sasaran Tembak Oleh Oknum Aparat di Perkebunan Kelapa Sawit

“Kalau tanaman umur seminggu memang rawan mati dan harus diganti dengan tanaman baru,” ujar Tuwuh, kepada TribunSolo.com, Kamis (24/6/2021).

Tuwuh mengatakan, selain tanaman bisa mati karena kelebihan air, juga bisa mati karena tertimbun tanah.

Meskipun begitu, ia mengaku tanaman miliknya sudah berusia sebulan sehingga lebih tahan guyuran air hujan. 

Baca juga: Geledah Rumah Petani di Prambanan Klaten, Densus 88 Amankan Puluhan Buku dan Catatan Tangan

"Itupun saya masih diliputi rasa khawatir, dampak hujan berkepanjangan membuat saya kurang leluasa melakukan pemupukan," ucap Tuwuh.

Ia mengatakan, jika tanah dalam kondisi basah, maka pupuk bisa menganggu pertumbuhan tanaman tembakau. 

Selain itu, pupuk yang mencair terlalu cepat membuat suhu tanah menurun dengan cepat sehingga bisa merusak akar tanaman.

“Ya, bagaimana lagi, kondisinya memang seperti ini, yang saya bisa dilakukan paling membersihkan saluran air agar air bisa mengalir cepat," kata Tuwuh.

Baca juga: Selama 3 Tahun, Garam di Lombok Timur Lama Tak Terjual, Petani Garam : Kita Bisa Mati

Dia mengaku, lahan yang digarapnya merupakan tanah kas milik Pemerintah Desa Ngaru- aru.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved