Kisah Keluarga di Gunungkidul Tinggal di Kandang Sapi: Rumah Dijual Gara-gara Jeratan Rentenir
Pria ini awalnya bekerja sebagai tukang sablon, sedangkan istrinya menjadi pedagang sayur. Kehidupan bisa dibilang mapan saat itu.
5. Kerja garap lahan palawija
Ngadiono kini tetap berupaya menyisihkan uang hasil panen yang didapatnya untuk kebutuhan sehari-hari.
Ia menggarap lahan palawija milik Perhutani, sedangkan ternak yang tinggal bersamanya sebagian milik saudara.
6. Tanggapan kepala dukuh
Dukuh Kedungranti Tukiyarno mengatakan keluarga tersebut sejak awal terdaftar sebagai warganya.
Adapun kandang yang mereka tempati didirikan sendiri oleh Ngadiono dengan hasil panennya.
"Sebenarnya dilarang mendirikan kandang ternak di situ, tapi mungkin agar memudahkan pekerjaannya juga," jelas Tukiyarno.
Ia mengatakan upaya bantuan sudah coba dilakukan, antara lain mendirikan rumah bagi keluarga Ngadiono.
Namun karena tidak ada tanah, maka upaya tersebut mandek di tempat.
Meski begitu, Tukiyarno mengatakan pihaknya berencana mendirikan rumah semi permanen.
Adapun rumah tersebut akan dibangun di tanah kas kalurahan, tidak lagi di pinggir Sungai Oya.
"Sebab di sana rawan banjir dan pernah terjadi, jadi kami berencana memindahkan mereka ke tanah kas kalurahan dulu," katanya.
Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Terlilit Utang, Satu Keluarga di Gunungkidul Terpaksa Tinggal di Kandang Sapi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ngadiono-beserta-sumini-di-depan-bangunan-kandang-yang-kini-mereka-jadikan-sebagai-rumah.jpg)