Versi Survei LSIN, Inilah 5 Menteri Terbaik dan 5 Menteri Terburuk, Capres Terpopuler Ada Tiga Nama

Survei LSIN juga mengukur elektabilitas Capres jelang Pemilu 2024 dengan berbagai simulasi pertanyaan.

Tayang:
Editor: Hanang Yuwono
dok.tribunnews
Sandiaga Uno dan Nadiem Makarim masuk dalam 5 menteri terbaik versi survei LSIN. 

Dengan simulasi 10 nama 3 nama tetap mendominasi Ganjar Pranowo 25% Anies Baswedan 21% dan Prabowo Subianto 13%.

Dengan simulasi 8 nama 3 nama tetap mendominasi Ganjar Pranowo 27% Anies Baswedan 21% dan Prabowo Subianto 14%.

Dengan simulasi 5 nama 3 nama tetap mendominasi Ganjar Pranowo 31% Anies Baswedan 24% dan Prabowo Subianto 14%.

Jika menggunakan simulasi Ketum Parpol terdapat 3 nama yaitu Prabowo Subianto dengan elektabilitas 12%, AHY 4,8% dan Airlangga Hartato 1,9%. 

Tiga nama Capres potensial 2024 saat ini memiliki eketabilitas yang cukup menjanjikan sebagai modal elektoral.

Tiga Capres dari simulasi Ketum Parpol juga patut dipertimbangkan sebagai kuda hitam nama AHY dan Airlangga patut menjadi perhitungan. Tutur direktur eksekutif LSIN, Yasin Mohammad.  

Yasin Mohammad, menambahkan Hasil survei LSIN cukup komparatif jika dibandingkan dengan survei-survei yang dilakukan lembaga lain.

Munculnya tiga nama Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto menunjukkan bahwa kontestasi kandidat saat ini masih didominasi karena faktor popularitasnya sendiri.

Elektabilitas Capres lebih banyak ditentukan karena faktor popularitasnya sendiri dibanding faktor lain.

Capaian elektabilitas Capres masih belum mengarah pada karena faktor kinerja, ideologi politik, atau faktor-faktor fundamental lainnya. 

 Karenanya, Yasin Mohammad menyimpulkan bahwa semua Capres saat ini memiliki peluang yang sama di 2024.

Nama-nama dari kader Parpol seperti Airlangga Hartato, AHY, meski elektabilitasnya masih di bawah 10% memiliki peluang yang sama di Pilpres 2024.

Selain karena faktor elektabiltas Capres saat ini lebih dipengaruhi karena popularitasnya bukan karena faktor fundamental juga secara durasi waktu saat ini masih cukup ruang bagi para kandidat meningkatkan elektabilitanya.

Kuncinya adalah bagaimana para kandidat meramu strategi kampanyenya dan merebut pengaruh publik baik melalui performa kandidat maupun performa institusi yang diembannya. 

Menurut Yasin Mohammad, Pilpres 2024 berpotensi terjadi kejutan sebagaimana Pilpres 2014 dimana kemunculan Jokowi sebelumnya tidak diperhitungkan namun memenangkan Pilpres 2014. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved