Breaking News:

Kata Eks Kepala Bais: Indonesia Tak Perlu Panglima TNI, di UU Tetap Presiden yang Paling Berkuasa

Rupanya, Ponto menilai Indonesia tidak seharusnya memerlukan jabatan panglima TNI. Ini alasan dia menurut UUD.

Editor: Hanang Yuwono
TNI AD
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menggelar video teleconference membahas kerja sama penanganan Covid-19 bersama kepala staf dan panglima angkatan darat (AD) dari 10 negara anggota ASEAN, Kamis, 9/7/2020. 

TRIBUNSOLO.COM -- Komentar diberikan Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI Soleman B Ponto soal penunjukan Jenderal TNI Andika Perkasa sebagai Calon Panglima PNI.

Rupanya, Ponto menilai Indonesia tidak seharusnya memerlukan jabatan panglima TNI.

Soleman B Ponto pun mengungkapkan alasannya.

Kata dia, TNI seharusnya langsung dipegang oleh presiden sebagai pemenang kekuasaan tertinggi.

Baca juga: Mahfud MD Beberkan Alasan Jokowi Pilih Andika Perkasa Jadi Calon Panglima TNI: Tak Terpengaruh Opini

Baca juga: Jenderal Andika Perkasa Punya Harta Kekayaan Rp179 Miliar, Intip Dua Mobil Mewahnya di Garasi

"Kalau kita lihat Undang Undang Dasar kan tidak ada Panglima TNI. Langsung presiden. Presiden memegang kekuasaan tertinggi terhadap angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara," kata Ponto dalam diskusi daring, Minggu (7/11/2021).

Ia juga menyoroti pertimbangan pemilihan calon Panglima TNI yang harus dipilih dari kepala staf masing-masing matra.

KSAD, KSAL, dan KSAU merupakaan orang-orang terbaik dan memiliki kapabilitas terbaik di bidangnya sehingga tidak bisa disebut bahwa Andika Perkasa adalah yang terbaik di antara kepala staf lainnya.

"Bagaimana kita membandingkan kan tidak bisa membandingkan apple to apple bahwa darat dibandingkan laut lebih bagus darat, laut dengan udara enggak bisa," ujar dia.

Presiden Joko Widodo juga disebutnya sudah sering memilih panglima dari matra darat. Padahal, tambah Ponto, presiden seharusnya memilih panglima TNI dari matra secara bergiliran.

"Di undang-undang ini diatur bahwa Panglima TNI itu bergantian. Nah bergantian itu bisa bergantian laut udara, atau darat laut, darat udara," ujarnya.

"Itu bergantian namanya. Kalau Bu Mega (Megawati Soekarnoputri) itu darat, laut, udara, Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) darat, laut, darat, udara. Pak Jokowi darat, darat, udara, darat. Lautnya masih belum tau. Akhirnya terpulang pada Pak Jokowi sekarang," lanjut dia.

Namun, Ponto menyadari bawa sebenarnya Jokowi memilih panglima TNI hanya berberdasar kedekatan atau chemistry.

Oleh karena itu, ia mengingatkan matra TNI selain darat dan udara membangun chemistry dengan Jokowi.

"Makanya dalam satu tahun ini memang yang kedua laut sama udara ini harus bisa memperlihatkan bisa gak membangun chemistry, kalau tidak terbangun bisa saja beliau ke darat lagi atau ke udara lagi," ungkapnya, dikutip dari Kompas.com dalam artikel Eks Kepala Bais Sebut Indonesia Sebetulnya Tidak Perlu Panglima TNI. (*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved