Berita Boyolali Terbaru

Perjuangan Para Penambang Pasir Kali Sombo Boyolali: Rela Seharian Berendam di Sungai

Menambang pasir secara manual masih jadi andalan warga di sekitar kali Sombo, Mojosongo, Boyolali.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Tri Widodo
Seorang penambang mengambil pasir di Kali Sombo, Mojosongo, Boyolali. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Menambang pasir secara manual masih jadi andalan warga di sekitar kali Sombo, Mojosongo, Boyolali.

Meski harus berendam dalam air sungai berjam-jam yang kemundian menggendong berkilo-kilo gram pasir, namun hal itu tak jadi beban bagi warga.

Sungai yang berjarak kurang lebih 1,5 kilometer dari pusat Pemerintahan Boyolali ini tak pernah sepi dari aktivitas penambangan pasir manual.

Baca juga: Kritik Fraksi PAN DPRD Klaten : Truk Pasir Seakan Dibiarkan, Buat Jalur Evakuasi Merapi Mudah Rusak

Baca juga: Biodata Waluyo, Kepala Dinas Perhubungan Wonogiri: Habiskan Masa Kecil dengan Nambang Pasir

Munculnya matahari menjadi tanda dimulainya aktivitas warga masyarakat untuk segera bergegas menuju 'paran'.

Mengais pasir di dalam tenangnya air sungai.

Mulyono salah seorang penambang pasir manual mengaku jika penambangan pasir secara manual ini sudah dia lakoni sejak puluhan tahun lalu.

Manis pahit menambang pasir jadi makanan sehari-hari.

Baca juga: Wisata Hits di Boyolali : Bale Rantjah Park Sawit, Cocok Buat Nyantai Layaknya Pantai Berpasir Putih

"Kalau pas musim kemarau gitu, sangat susah mendapatkan pasir," ujarnya.

Tak jarang butuh waktu hampir sepekan untuk mengumpulkan pasir untuk satu bak pikap.

Saat penghujan tiba, merupakan masa panen bagi penambang pasir manual ini.

"Kalau musim hujan gini. Sehari, mulai dari pagi sampai sore bisa dapat satu kol (bak pikap)," ujarnya.

Baca juga: Wisata Hits di Boyolali : Bale Rantjah Park Sawit, Cocok Buat Nyantai Layaknya Pantai Berpasir Putih

Hanya saja, penambang harus lebih waspada. Selain itu, penambangan tidak bisa setiap hari. 

"Kalau hujan kami tidak berani nambang," imbuhnya.

"Karena aliran sungai deras dan kami tidak bisa mengambil pasir di dasar sungai," tambahnya.

Dia menambahkan pasir yang kumpulkan ini, paling mahal dijual dengan harga Rp 150 ribu per bak pikap.

Sedangkan untuk batu krikilnya hanya Rp 50 ribu.

"Kalau pasir untuk pasang paving itu murah. Hanya Rp 110 ribuan," tambahnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved