Cerita dari Solo

Asal-usul Nama Manahan di Solo : Bukan Tempat Berlatih Memanah, Tapi Rumah Ki Ageng Pamanahan

Kata Manahan sebuah kelurahan di Solo diyakini berasal dari tokoh masyarakat setempat bernama Ki Ageng Pemanahan. 

Tayang:
Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Aji Bramastra
TribunSolo.com/Adi Surya
Stadion Manahan Solo yang bakal menjadi venue Piala Dunia U-20, Selasa (4/2/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Stadion Manahan Solo menjadi ikon baru Kota Solo, dengan bangunannya yang modern dan menjadi salah satu stadion paling megah di Indonesia.

Bagi yang belum tahu, Manahan sendiri merupakan nama kelurahan tempat di mana stadion yang awalnya dibangun oleh Keluarga Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto ini, berdiri.

Baca juga: Sejarah Karanganyar: Cerita Tentang Pertemuan Pangeran Sambernyawa & Nyi Ageng Karang di Pengasingan

di Solo, Kelurahan Manahan ada di Kecamatan Banjarsari.

Nah, soal asal-usul kata Manahan, ada dua rumor yang beredar di masyarakat.

Banyak warga mengira, Stadion Manahan ini dulunya merupakan tempat berlatih memanah.

Tapi, ternyata bukan itu maknanya.

Kata Manahan diyakini berasal dari tokoh masyarakat setempat bernama Ki Ageng Pemanahan. 

Menurut kerabat Keraton Solo, KRMT L Nuky Mahendranata Nagoro, Ki Ageng Pemanahan merupakan tokoh yang disegani rakyat di kawasan itu pada tahun 1500-an.

Karena menjadi sosok panutan oleh masyarakat, tempat tinggal Ki Ageng Pamanahan menjadi sebuah padepokan. 

Di sana masyarakat belajar nilai-nilai kehidupan dan religi. 

Tempat tinggal Pamenahan pun akhirnya dikenal dengan nama Depok.

Depok, saat ini menjadi Pasar Burung di Kota Solo.

Pada masa Ki Ageng Pamenahan hidup itu, wilayah Solo masih dikenal sebagai Kerajaan Pajang.

Rajanya adalah Sultan Adiwijaya, atau yang lebih populer dengan nama Joko Tingkir.

"Ki Ageng Pemanahan kemudian diangkat sebagai kakak angkat oleh Sultan Adiwijaya," kata Nuky, Minggu (5/12/2021).

Sultan Adiwijaya kemudian ingin menguasai Kesultanan Demak, dengan mengalahkan Arya Penangsang. 

"Namun Sultah Adiwijaya sungkan, karena dia hanya menantu, sedangkan Aryo Penangsang merupakan cucu putra raja, sehingga dia merupakan keturunan langsung," jelasnya. 

"Hingga akhirnya Sultan Adiwijaya membuat sayembara untuk membunuh Aryo Penangsang," tambahnya. 

Singkat cerita, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Penjawi berhasil memenangkan sayembara tersebut, dan mendapatkan hadiah.

Hadiahnya berupa sebuah daerah kekuasaan.

Ki Ageng Penjawi mendapatkan daerah Pati, Ki Ageng Pemanahan mendapat Alas Mentaok, yang saat ini dikenal dengan nama Kotagede di Yogyakarta. 

"Hadiah baru diberikan 5 tahun kemudian, selama hadiah belum diberikan Ki Ageng Pemanahan tinggal di Depok," ujarnya. 

Setelah hadiah diberikan, warga desa kemudian bedol desa, eksodus pergi ke Kotagede. 

Setelah alas Mentaok itu ditempati, kemudian kawasan tersebut menjadi Bumi Mataram, sebelum menjadi Kerajaan Mataram. 

Karena ditinggal penduduknya, kawasan Manahan kembali menjadi hutan belantara.

Seiring perjalanan waktu kawasan Manahan kemudian dijadikan lokasi latihan berkuda dan memanah pasukan legiun Mangkunegaran, di tahun 1700-an. 

Hal tersebut membuat masyarakat salah kaprah, yang mengira penamaan Manahan berasal dari kata Panahan. 

"Jadi nama Pemanahan itu sudah ada terlebih dahulu sekira tahun 1500-an, yang diambil dari tokoh masyarakat setempat bernama Ki Ageng Pemanahan," kata dia. 

"Sedangkan Mangkunegaraan menempati itu baru tahun 1700-an," pungkasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved