Berita Wonogiri Terbaru

Waspada! Wonogiri Jadi Daerah Rawan Longsor, 2021 Ada Puluhan Kejadian dengan Kerugian Rp 1 Miliar

Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan  ada sebanyak 44 kejadian longsor sepanjang tahun lalu.

Tayang:
Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Asep Abdullah Rowi
istimewa BPBD Wonogiri
ILUSTRASI : Penampakan Longsor di Jalan Pacitan - Solo, Di Giri Kikis Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, Senin (12/4/2021). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Erlangga Bima Sakti

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Kabupaten Wonogiri termasuk daerah rawan bencana tanah longsor, buktinya ada puluhan kejadian sepanjang 2021 lalu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan  ada sebanyak 44 kejadian longsor sepanjang tahun lalu.

Dari 25 kecamatan yang ada di wilayah Wonogiri, Kecamatan Tirtomoyo menjadi daerah yang paling banyak menyumbang kejadian tanah longsor.

"Di Tirtomoyo tercatat ada 14 kejadian tanah longsor di tahun lalu," terang dia kepada TribunSolo.com, Sabtu (29/1/2022).

Menurut Bambang, selain di Tirtomoyo, tanah longsor juga terjadi di 13 kecamatan lain, sehingga ada 14 kecamatan yang pernah terjadi longsor, termasuk Wonogiri kota.

Perkiraan pihak BPBD Wonogiri, kerugian yang diakibatkan oleh puluhan kejadian tanah longsor itu ditaksir mencapai Rp 1.050.500.000.

Sementara itu, ada sejumlah faktor yang bisa memicu tanah terjadinya longsor. Misalnya adalah tingkat kemiringan tanah hingga jenis tanah.

"Termasuk juga tanaman yang ada dan juga pengaturan air di area tersebut," jelasnya.

Baca juga: Jembatan Putus Mendadak, Perbaikan Masih Buram, DPUPR Sragen Sebut Akan Minta Petunjuk Bupati Dulu

Baca juga: BREAKING NEWS : Ada Minyak Goreng Murah di Pasar Legi Solo, Warga Rela Antre Berjam-jam Lamanya

Dia juga menuturkan, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan masyarakat sebagai bentuk antisipasi terjadinya tanah longsor di wilayah masing-masing.

Salah satu cara yang bisa dilakukan warga adalah dengan memeriksa apakah ada rekahan tanah yang terjadi di area rawan longsor seperti tebing.

Terlebih bencana tanah longsor masih bisa terjadi dalam beberapa waktu kedepan, sebab adanya prediksi puncak musim penghujan jatuh di bulan Januari dan Februari.

"Kalau terjadi rekahan, bisa diupayakan untuk ditutup dengan tanah. Ini kan manajemen air. Bisa juga mengantisipasi kejenuhan air di tanah dengan cara mengalihkan aliran air ke dalam tanah," terang Bambang.

Selain itu, juga bisa dilakukan penanaman tanaman dengan akar yang kuat dalam mengikat tanah di daerah rawan longsor. Tanaman yang bisa ditanam misalnya adalah rumput vetiver atau akar wangi.

Lebih jauh, kata dia, BPBD Wonogiri juga telah melakukan perbaikan empat early warning system (EWS) tanah longsor.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved