Berita Sragen Terbaru

Kasus Ayah dan Anak Bunuh Diri Diduga karena Faktor Ekonomi di Sragen, Begini Pandangan Sosiolog UNS

Berdasarkan data dari kepolisian, tercatat ada 8 kasus bunuh diri di Kabupaten Sragen hingga awal bulan Mei tahun 2022.

kompas.com
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Berdasarkan data dari kepolisian, tercatat ada 8 kasus bunuh diri di Kabupaten Sragen hingga awal bulan Mei tahun 2022.

Pada awal tahun 2022, tepatnya tanggal 7 Januari 2022, seorang kakek, JS (86) nekat gantung diri di kebun belakang rumahnya karena merasa depresi menderita penyakit menahun. 

Tak lama, tepatnya pada 11 Januari 2022, kasus bunuh diri dilakukan oleh seorang perempuan, SN (47) dengan cara menyeburkan diri ke sumur diduga karena menderita penyakit TBC yang tak kunjung sembuh.

Baca juga: Sehari Ada 3 Warga Akhiri Hidup, Bupati Sragen Yuni : Himpitan Ekonomi, Keimanan Harap Ditingkatkan

Baca juga: Event Bakdan Ing Balekambang Dongkrak Ekonomi, Raup Puluhan Juta Rupiah Per Hari

Kasus bunuh diri kembali terjadi pada 3 Februari, dimana seorang perempuan S (82) gantung diri karena menderita penyakit menahun. 

Aksi nekat juga dilakukan S (74) yang mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di sumur tua pada 21 Februari 2022 lalu. 

Kemudian, pada 30 Maret 2022, seorang laki-laki, JW (38) ditemukan menggantung di pohon jati, diduga karena masalah keluarga. 

Yang cukup menghebohkan beberapa hari terakhir, pada 6 Mei 2022 terdapat 3 orang yang mengakhiri hidup dengan gantung diri dalam waktu yang hampir bersamaan, diduga karena masalah himpitan ekonomi. 

Seorang ayah A (40) nekat mengajak sang anak, SLA yang baru berusia 4 tahun untuk melakukan aksi gantung diri.

Kasus lainnya, S (34) ditemukan tewas menggantung di pintu dapur rumahnya diduga merasa frustasi karena memiliki masalah pola tidur. 

Banyaknya kasus bunuh diri di Kabupaten Sragen membuat prihatin banyak pihak, karena warga tak mampu lagi menyelesaikan masalah hidupnya. 

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Drajat Tri Kartono menjelaskan penyebab seseorang nekat bunuh diri bukan hanya karena merasa putus asa atau depresi dalam hidupnya saja.

Baca juga: Pesan Sandiaga Uno Buat ASN Soal THR Lebaran : Belanjakan Untuk Beli Produk Ekonomi Kreatif Lokal

Namun, dukungan sosial di lingkungannya juga berpengaruh terhadap keputusan seseorang untuk mengakhiri hidupnya.

"Orang itu juga merasa bahwa dukungan-dukungan sosial itu tidak cukup meyakinkan dia bahwa dia akan mendapat pertolongan dan perbaikan dalam hidup," ujarnya kepada TribunSolo.com, Senin (9/5/2022). 

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved