Jokowi Sebut Harga BBM dan Beras di Indonesia Lebih Murah Dibanding Negara Lain, Sinyal Bakal Naik?

Kata Jokowi, saat ini pemerintah masih berupaya keras menahan supaya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite tidak naik dari angka Rp 7.650.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Tangkap Layar Youtube Sekretariat Presiden
Presiden Jokowi saat mengumumkan kebijakan boleh melepas masker, Selasa (17/5/2022) 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA -- Pemerintah sampai saat ini masih menekan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, sehingga jauh lebih murah daripada harga di negara-negara lain.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan kebijakan pemerintah terkait BBM dalam acara Aksi Afirmasi Bangga Buatan Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (24/5/2022).

Kata Jokowi, sampai saat ini pemerintah masih berupaya keras menahan supaya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite tidak naik dari angka Rp 7.650 per liter.

"Di Singapura sekarang harga BBM sudah 32.000, Jerman sudah diangka 31.000, Thailand 20.000, kita ini Pertalite masih 7.650, sekali lagi Rp 7.650. Pertamax 12.500. Yang lain (harganya) sudah jauh sekali," kata Jokowi dalam tayangan di YouTube Sekretariat Presiden.

Baca juga: Selama April, Inflasi Kota Solo Naik Sebasar 1,47 Persen, Faktor Utama Kenaikan Harga BBM

Baca juga: Kisah Pemudik Kesulitan Cari BBM di Tol Trans Jawa Hingga Istirahat di Rest Area Boyolali Dibatasi

Jokowi pun menyebut upaya ini tidak mudah.

Pasalnya, di saat bersamaan subsidi energi dari APBN yang harus ditanggung pemerintah jumlahnya juga semakin besar.

"Kapan kita bisa menahan, sampai kapan kita bisa menahan ini, ini pekerjaan kita bersama-sama.”

“Sehingga saya minta kementerian/lembaga, pemerintah daerah, sekali lagi memiliki sense yang sama. Berat, menahan harga seperti itu berat," tuturnya.

Dirinya menambahkan, pemerintah juga menahan kenaikan harga di sektor energi, termasuk gas dan listrik, serta harga bahan pangan.

Beras misalnya, di Indonesia harganya masih Rp10.700 per kilogram.

Jokowi mengklaim angka tersebut jauh lebih murah dibandingkan negara-negara lain yang sudah naik 30-40 persen, bahkan melewati angka 60 persen.

Menurut Jokowi, kenaikan sejumlah komoditas itu menyebabkan angka inflasi melonjak.

Bahkan, di Amerika Serikat kenaikan inflasinya mencapai 8,3 persen, padahal sebelumnya tak pernah lebih dari satu persen.

Sedangkan, lonjakan inflasi di Turki mencapai hampir 70 persen.

Halaman
12
Sumber: Kompas TV
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved