Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Berita Sragen Terbaru

Pemkab Sragen Tutup Seluruh Pasar Hewan Antisipasi Penyebaran PMK, Peternak Ngaku Rugi

Peternak di Sragen mengaku merugi lantaran seluruh pasar hewan ditutup untuk mengantisipasi Penyakit Mulut dan Kuku. Pembeli pun tak kunjung datang

Tribunsolo.com/Septiana Ayu Lestari
Suparno sedang memberi makan sapi di kandang di Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Kamis (2/6/2022).  

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Pemerintah Kabupaten Sragen memutuskan menutup seluruh pasar hewan yang ada di wilayahnya mulai 31 Mei 2022 hingga 14 Juni 2022 mendatang. 

Keputusan tersebut diambil, setelah ditemukan kasus positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang ada di Kabupaten Sragen. 

Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sragen total terdapat 95 sapi yang terjangkit PMK per Rabu (1/6/2022). 

Baca juga: Virus PMK di Sragen Kian Mengerikan, Sudah Jangkiti 95 Ekor Sapi, Total 5 Anakan Sapi Mati Tiba-tiba

Dari jumlah tersebut, 12 diantaranya mati dengan rincian 7 dipotong dan 5 mati akibat PMK. 

Dengan ditutupnya seluruh pasar hewan di Kabupaten Sragen membuat para peternak mengaku rugi.

Anggota kelompok tani Ekopuoyo, Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sudirman (50) mengatakan setelah pasar hewan ditutup, tidak ada peternak yang berani memasukkan sapi baru ke kandang kelompok tersebut. 

"Dampak pasar hewan ditutup, orang sini mau memasukkan sapi yang baru nggak berani terus terang, masalahnya disini dipantau oleh polisi," katanya saat ditemui wartawan, Kamis (2/6/2022). 

Dampaknya, jumlah sapi yang ada di kandang yang sudah berdiri 20 tahun lalu itu semakin berkurang.

Baca juga: Puluhan Sapi di Sragen Terjangkit PMK, Dinas Putuskan Menutup Pasar Hewan Selama 14 Hari Kedepan

Baca juga: Sapi di Sukoharjo Berjatuhan Diserang PMK : Ada Tambahan 23 Kasus, Tapi 21 Sapi dan Domba Sembuh

Awalnya, jumlah sapi yang dipelihara dalam kandang tersebut mencapai 85 ekor. 

Kini, setelah adanya pembatasan lalu lintas ternak, sapi yang dipelihara hanya tersisa 45 ekor saja. 

Tak hanya itu, setelah pasar ditutup akhirnya banyak pembeli yang datang langsung ke kandang.

Pembeli pun akhirnya hanya sebatas menanyakan harga saja karena dirasa harga terlalu mahal. 

Peternak pun kebingungan menentukan harga, karena tidak bisa membandingkan dengan peternak lainnya. 

"Pasar ditutup pembeli nyari langsung ke kandang, sedangkan kita nggak tahu harga, tidak bisa membandingkan," terangnya. 

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved