Berita Boyolali Terbaru

Sejarah Gereja Katolik Tertua di Boyolali: Awalnya Kapel Sederhana Berdinding Bambu

Gereja Hati Tak Bernoda (HTB) Santa Perawan Maria ternyata memiliki sejarah yang panjang. Gereja tersebut juga termasuk tertua di Boyolali.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Tri Widodo
Gereja Katolik HTB Santa Perawan Maria di jalan Merbabu Nomor 24 Boyolali, Sabtu (24/12/2022). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Gereja Hati Tak Bernoda (HTB) Santa Perawan Maria satu-satunya gereja katolik tertua di Boyolali.

Gereja yang ada jalan Merbabu Nomor 24 Boyolali itu secara resmi memang baru didirikan pada tahun 1961.

Tapi sebelum pendirinya, ada sejarah panjang yang melatar belakangi bangunan gereja yang kini melayani lebih dari 1.900an umat Katolik itu.

Wakil Ketua Ii Dewan Paroki Gereja HTB Santa Perawan Maria, Petrus Sarijo menceritakan jika sebelumnya agama Katolik hanya dikenal oleh orang-orang Belanda yang berdomisili di Boyolali.

Namun sekitar  tahun 1920 datanglah seorang awam dari Yogyakarta ke Boyolali.

Dia datang ke Boyolali untuk mengajarkan Injil ke keluarga Kariyosemita di kampung Gudang Kelurahan Siswadipuran.

Selain keluarga Kariyosemita, remaja di sekitarnya juga tertarik untuk mengikuti pelajar agama Katolik.

"Kariyosemita tidak langsung dipermandikan, dia baru dipermandikkan setelah tiga putranya tamat dari Norman School (Sekolah Guru) Kanisius di Ambarawa," ujarnya kepada TribunSolo.com, Sabtu (24/12/2022)

Seiring berjalannya waktu, umat Katolik di Boyolali terus bertambah.

Umat Katolik Boyolali yang kebanyakan para pendidik, lalu  mendirikan Sekolah Rendah yang diberi nama Malaise Chinese School (MCS) dengan menempati rumah Tjondrodipuran jalan Merbabu No 24 yang telah dibeli 1940.

Rumah sederhana dan tradisional dari anyaman bambu yang dipakai untuk sekolah dan kapel untuk ibadah.

Tapi sekolah itu  harus bubar saat Jepang masuk Indonesia.

Selama pendudukan Jepang, gereja Katolik tidak mengalami perkembangan yang berarti.

Baru kemudian tahun 1946 Gereja Katolik Boyolali mulai ada kegiatan lagi.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved