Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Keraton Solo Ricuh

Kronologi Bentrok Keraton Solo Versi Kubu PB XIII, KP Dani : Orang-orang Tak Dikenal Berseliweran

Kubu Raja Keraton Solo, SISKS Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi menyampaikan kronologi kenapa kericuhan dengan Lembaga Dewan Adat (LDA) bisa terjadi.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Asep Abdullah Rowi
TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
Kondisi terkini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Sabtu (24/12/2022). Semalam kawasan tersebut ramai karena gegeran. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kubu Raja Keraton Solo, SISKS Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi menyampaikan kronologi kenapa kericuhan dengan Lembaga Dewan Adat (LDA) bisa terjadi.

Terlebih ada kelompok dari Sasonoputro yang mengatasnamakan PB XIII.

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Solo, KP H. Dani Nur Adiningrat membenarkan jika kelompok yang bentrok dengan Gusti Moeng dkk adalah kubu PB XIII.

Ada beberapa catatan kenapa kemudian kericuhan dengan LDA terjadi.

"Pertama mereka masuk satu minggu ini mencari pencuri dengan cara tidak benar. Membawa orang-orang tidak dikenal," ungkap dia kepada TribunSolo.com, Senin (26/12/2022).

"Kedua ketika hari Sabtu pencuri tidak ketemu terus kita dari keamanan keraton ditugasi Sinuhun untuk mengamankan pintu ternyata tidak diperbolehkan (LDA) dan menduduki sampai sekarang," jelasnya.

Lalu kata KP Dani, pada Selasa (19/12/2022) kelompok LDA menggelar latihan menari Bedhaya Ketawang.

Menurutnya, kubu LDA tidak berhak mengadakan tarian ini.

"Ketika ajaran Bedhaya Ketawang ternyata dari utusannya Sinuhun tim penari siap, yogo siap, sinden siap, ternyata mereka mengadakan dulu di Sasono Semoko," jelasnya.

Baca juga: Keraton Solo Diserbu Wisatawan, PKL Pun Ikut Ketiban Rezeki, Bisa Kantongi Rp 400 Ribu Per Hari

Baca juga: Dua Cucu PB XIII Terluka & Ditodong Pistol di Keraton Solo, Eddy Wirabhumi : Kami Tetap Lapor Polisi

Tarian Bedhaya Ketawang hanya boleh ditampilkan atas perintah Sinuhun.

"Padahal ajaran Bedhoyo Ketawang itu adalah otoritas raja. Yang melaksanakan itu harus atas dhawuh raja penguasa Kasunanan Surakarta," tuturnya.

Terakhir, terjadilah bentrok saat para petugas melakukan pengamanan di beberapa titik.

"Berlanjut ketika ada lagi petugas Sentono, Kanjeng Adit, berusaha mengamankan pintu. Ternyata mendapat perlakuan fisik oleh oknum Gustin Moeng," jelasnya.

Pihaknya melakukan pengamanan karena banyak orang yang tidak dikenal berseliweran di dalam area Keraton Solo.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved