Info Pendidikan

Mengenal Dampak Posisi Duduk W, Berbahayakah untuk Anak? 

Anak-anak yang cenderung duduk w–sitting dikarenakan ada beberapa area otot yang belum matang secara sempurna, terkhusus pada bagian core muscle.

Penulis: Ibnu DT | Editor: Ryantono Puji Santoso
Istimewa
Ilustrasi duduk W. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Posisi duduk w atau W-Sitting merupakan salah satu posisi duduk yang biasa dilakukan dengan cara kedua lutut di tekuk ke arah belakang, posisi kaki ada disamping kanan dan kiri.

Yang sering ditemui, justru kebiasaan tersebut sering dianggap unik oleh beberapa orang tua.  

Untuk mengetahui lebih jauh, Terapis Okupasi Puspa Al Firdaus, Desi Kusumawati, menjelaskan lebih lanjut tentang dampak dari posisi duduk w pada anak. 

Desi mengungkapkan, bahwa anak-anak yang cenderung duduk w–sitting dikarenakan ada beberapa area otot yang belum matang secara sempurna, terkhusus pada bagian core muscle.

"Otot-otot core mescle itu diantaranya bagian otot perut, trunk/punggung, panggul dan pelvic," kata dia. 
 
"Nah karena otot yang sebutkan tadi belum kuat/teraktivasi secara maksimal, maka anak akan memilih posisi duduk W, karena base of support nya menjadi lebar," jelas dia. 

"Anak anak yang ada masalah di core muscle nya melakukan W-sitting ini akan merasa nyaman dalam aktivitas duduk saat bermain," jelasnya.

Baca juga: Pujian Kepala Dinas Pendidikan Solo untuk Karya Siswa Al Firdaus: Bagus, Sesuai Kurikulum Merdeka 

Lebih lanjut, Desi mengungkapkan, jika posisi duduk seperti itu memberikan efek samping.

Menurutnya, apabila otot bagian tubuh ini ada yang tidak maksimal, pasti ada beberapa gerak tubuh yang tidak maksimal juga. 

Anak menjadi kurang terbiasa menggunakan otot core muscel, dan berada di zona nyamannya dia saja dengan cara duduk W.

"(Nantinya) akan timbul berbagai masalah jika core muscle tidak sempurna seperti stabilasi bahu dan pergelangan tangan menjadi lemah, akan mempengaruhi keterampilan motoric halus anak," kata dia. 

"Anak akan kesulitan untuk belajar gerakan weight bearing (membagi berat beban tubuh ke masing masing sisi) atau rotasi trunk (memutar punggung) misalnya saat mengambil mainan ke belakang. 

Hal tersebut juga berhubungan dengan kemampuan koordinasi bilateral, aktivitas yang memerlukan koordinasi bilateral seperti menulis, mengancingkan baju, memotong dan lain sebagainya.

"Jangka panjangnya akan berimbas pada beberapa otot otot yang lemah, dan akan menghambat beberapa aktivitas sesuai perkembangannya seperti berlari, melompat, memanjat, bersepeda dan lain sebagainya," kata dia. 

"Efek lainnya bisa sampai adanya tekanan pada sendi pinggul dan lutut dapat menyebabkan masalah postu dan nyeri punggung bawah, bahkan juga bisa menyebabkan pemendekan otot," ungkapnya. (*/adv)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved