Gunung Merapi Erupsi
Petani Tlogolele Was-was Gagal Panen Imbas Erupsi Merapi, Siasati Kurangi Masa Tanam & Panen Dini
Tanaman tomat itu kini menjadi kering dan layu, baik dibagian tangkai maupun buah.
Penulis: Zharfan Muhana | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Petani sayur di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali ketar-ketir.
Pasalnya, Gunung Merapi masih terus aktif mengeluarkan guguran awan panas.
Parini, salah satu petani, mengungkap merasa was-was.
Tanaman yang ia tanam hasil panennya tidak bisa maksimal.
Parini menanam tanaman sayuran kembang kol dan sawi.
"Takut saja menanam banyak, karena hasil panen kurang maksimal," ujarnya, saat ditemui TribunSolo.com, Rabu (15/3/2023).
Saat ini Parini memilih untuk mengurangi menanam sayuran.
Baca juga: Jaga-jaga Jika Merapi Ngamuk, Pemdes Tlogolele Boyolali Sudah Siapkan TPPS Buat Tampung Warga
Baca juga: Mau Puasa, Malah Dihujani Abu Merapi, 55 Hektar Sayuran Kol dan Brokoli di Boyolali Pun Gagal Panen
"Biasa menanam bisa 2 sampai 3 kali, sekarang 1 kali saja ketar-ketir," ungkapnya.
Sementara itu petani lain, Harsini mengalami gagal panen pada tanaman tomatnya.
Tanaman yang baru 2 bulan ditanam menjadi kering akibat hujan abu.
"Tanaman tomat saat ini kering, akibat hujan abu kemarin," kata Harsini saat ditemui di ladang.
Tanaman tomat itu kini menjadi kering dan layu, baik dibagian tangkai maupun buah.
Sementara tanaman cabai miliknya juga mengalami rontok dan layu.
"Tanaman kembangnya mengalami rontok, sebagian juga mengalami gosong-gosong di cabai maupun tomat," ujarnya.
Harga jual pun mengalami penurunan akibat hujan abu ini.
"Kalau tomat hijau saat ini hanya laku Rp2 ribu, sebelum erupsi Rp7 sampai 8 ribu," pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Petani-sedang-beraktivitas-di-lahan-Desa-Tlogolele-Kecamatan-Cepogo-Boyolali.jpg)