Kasus Mario Dandy

Kondisi Memilukan David Setelah Dianiaya Mario Dandy, Tak Bisa Sekolah Lagi, Sulit Kembali Normal

Ayah D, Jonathan Latumahina yang tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya pada Senin (3/4/2023), mengungkapkan kondisi anaknya.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
KOMPAS.com/Twitter @seeksixsuck
Ayah D (17), Jonathan Latuhamina, baru-baru ini mengunggah foto sang anak yang tengah kesakitan saat tengah berjuang pulih di media sosialnya. 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - D (17) alias David dipastikan tidak akan bisa melanjutkan pendidikannya dan pulih seperti sedia kala gara-gara mengalami penganiayaan oleh Mario Dandy Satrio (20).

Ayah D, Jonathan Latumahina yang tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya pada Senin (3/4/2023), mengungkapkan kondisi anaknya.

Jo, sapaan akrabnya, membeberkan kondisi terkini D dan berbagai kemungkinan yang bakal terjadi kepada sang anak usai dimintai keterangan sebagai saksi dalam sidang terdakwa AG (15) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Baca juga: Pertahanan Persis Solo Diuji, Mesin Gol Persib David da Silva Bisa Jadi Momok Bagi Jaimerson Cs

"Kami tetap agak kecewa dengan semua tindakan yang ditempuh karena tim dokter menyatakan bahwa dia (D) tidak akan mampu kembali seperti semula," ungkap Jo.

Penyebab David tidak bisa kembali pulih seperti semula disebabkan kondisinya yang terlampau parah.

Menurut Jo, David sempat berada di ambang kematian karena tingkat kesadaran sang anak begitu rendah setelah dianiaya.

"Saat dirujuk ke rumah sakit (RS) usai peristiwa penganiayaan, D dinyatakan koma. Berdasarkan skala yang diukur menggunakan glasgow coma scale (GCS), tingkat kesadaran D hanya berada di skala 3. Umumnya manusia normal memiliki skala 15," ungkap Jo.

Baca juga: Rafael Alun Mengaku Sudah Minta Mario Dandy Bertobat : Bilang Kamu Akan jadi Sahabat David

Untuk diketahui, GCS merupakan skala yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran seseorang.

Skala ini dihitung berdasarkan tiga aspek, yakni respons terhadap suara, respons terhadap perintah gerakan, dan respons mata.

David hanya mendapat masing-masing satu poin dari ketiga aspek dalam skala CGS ketika dia diperiksa pertama kalinya.

Ayah David Ozora, Jonathan Latumahina, saat mendampingi putranya yang menjadi korban penganiayaan Mario Dandy di RS Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (1/3/2023).
Ayah David Ozora, Jonathan Latumahina, saat mendampingi putranya yang menjadi korban penganiayaan Mario Dandy di RS Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (1/3/2023). (Tangkap layar akun Twitter Jonathan Latumahina)

Begitu pun saat mata David diperiksa, tidak ada reaksi dan tetap terpejam.

Kemudian, tidak ada suara yang keluar meski namanya dipanggil.

Terakhir, D tidak bisa menggerakkan bagian tubuhnya walau sudah diberi perintah oleh tim dokter.

"D hanya mendapat satu poin dari setiap aspek. Arti lebih gampangnya, dia seperti orang meninggal tapi masih bernapas karena ketika disenter matanya tidak ada respons sama sekali," papar Jo.

Adapun David sudah 43 hari dirawat di ruang perawatan intensif (ICU).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved