Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Ibadah Haji 2023

Tekun Beribadah, Kunci Sukses Mbah Mursidah, Bakul Sayur Klaten Bisa Naik Haji : Semua Milik Allah

Bagi Mursidah (70) penjual sayur keliling asal Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Klaten hampir seluruh waktunya untuk beribadah.

Penulis: Zharfan Muhana | Editor: Adi Surya Samodra
Tribunsolo.com/Zharfan Muhana
Mursidah, salah satu jemaah calon haji asal Klaten yang akan berangkat ke tanah suci tahun 2023 ini. Mursidah berangkat setelah menabung 30 tahun lamanya dari hasil berjualan sayur dan sapu keliling 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Bagi Mursidah (70) atau lebih dikenal Mbah Mursidah penjual sayur keliling asal Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Klaten hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk kegiatan ibadah, Kamis (25/5/2023).

Salah satu tetangga Mbah Mursidah, Kartika mengatakan hal tersebut.

Baginya sosok tetangganya tersebut merupakan orang baik yang taat beribadah.

"Baik orangnya," ujar Kartika kepada TribunSolo.com.

Sehari-harinya Mbah Mursidah bangun pukul 02.30 WIB, melakukan salat malam, salat subuh, dan aktivitas lainnya.

"Itu kalau bulan puasa dia juga ikut gugah-gugah (bangunin) sahur di masjid  atau musala sekitar," ungkapnya.

Kegiatan pengajian yang ada di lingkungannya pun Mbah Mursidah ikuti, hampir setiap hari ia ada jadwal pengajian.

Salat di masjid pun selalu dilakukan agar tidak lepas dari salat berjamaah.

"Hujan deras juga berangkat, 1001 orang belum tentu ada yang samain. Bekal khirat terus hidupnya,"  paparnya.

Mbah Mursidah sendiri saat ditemui TribunSolo.com pada Rabu (24/5/2023) baru saja usai ikut pengajian diantar oleh anaknya Sri Murjiati (44).

Baca juga: 30 Tahun Menabung Hasil Jualan Sayur & Sapu Keliling, JCH Asal Klaten Kini Berangkat ke Tanah Suci

Baca juga: Perjuangan Mbah Pardianto, Jemaah Haji Sragen : Sampai Jual Sapi, Penantian 11 Tahun Terbayar

"Ngaji seminggu 5-7 hari full, yang penting badan sehat," ucap Mbah Mursidah yang memiliki 4 Anak dan 7 cucu.

Dalam waktu dekat, ia akan menuju rumah Allah Makkah al Mukaromah untuk menjalankan ibadah haji.

Ia sendiri menyisihkan uang 10 ribu per hari untuk tabungan khususnya.

Selain berusaha dengan menabung, ia selalu tak lupa dengan ibadahnya.

Dari salat wajib dan sunah, puasa senin-kamis, puasa ayyamul bidh 13,14,15, infak, dan kurban jadi kunci pedoman hidup yang ia pegang.

"Sing penting atine kepingin, (dilakukan) rutin. Mugo-mugo gusti Allah paring kemudahan, umur panjang, ngelakoni kewajiban maneh," ucap Mbah Mursidah.

Dulunya ia menjadi penjual sayur dan sapu keliling, hingga setahun sebelum pandemi berhenti karena dikhawatirkan anak-anaknya.

Setiap harinya ia menabung 10 ribu ke dalam kaleng hingga penuh, jika sudah penuh akan dijadikan kalung emas atau cincin. Ia melakukan hal tersebut sejak puluhan tahun yang lalu.

"Hampir 20 tahun menabung untuk naik haji nya," ungkapnya.

Ia juga selalu melaksanakan kurban setiap tahunnya, meski harus menjual perhiasan yang dimiliki ia ikhlas.

"Semua milik allah, makanya ikhlas. Sok mben yo enek rejeki (besok ya ada rejeki lagi)," kata Mbah Mursidah.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved