Berita Solo

OTT KPK Bikin Double Track Kereta Api di Solo Masih Angan-angan, Ternyata Ini Fungsinya

Ditangkapnya Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I wilayah Jawa Bagian Tengah (BTP Jabagteng), Putu Sumarjaya berpengaruh pada berbagai proyek.

TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
Kepala Daop 6 Yogyakarta Bambang Respationo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di wilayah Balai Perkeretaapian DJKA Jateng.

Pejabat yang kena OTT salah satunya Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I wilayah Jawa Bagian Tengah (BTP Jabagteng), Putu Sumarjaya.

Berbagai proyek pun terganggu akibat kasus ini tak terkecuali proyek pembangunan rel di Solo.

Double track kereta api pun sulit terwujud.

Padahal ini cukup penting untuk memangkas waktu tempuh.

Kepala Daop 6 Yogyakarta, Bambang Respationo menjelaskan, double track cukup urgent untuk segera dibangun.

Selama ini single track yang digunakan membuat waktu tempuh relatif lebih lama.

Baca juga: Kenapa Kereta Api Harus Berhenti Setelah Gempa Bumi? PT KAI Ungkap Alasannya

"Namanya kereta kalau single track masih mengalami penyusulan sama persilangan. Ketika sudah ada double track waktu tempuh semakin pendek," tuturnya saat ditemui di Stasiun Solo Balapan, Selasa (4/7/2023).

Kereta api harus bergantian menggunakan satu track sehingga membuat waktu tempuh lama.

"Kalau single track waktu tempuh masih nunggu. Sekali silang tergantung jarak stasiun bisa sampai 20 menit. Dampak ya ke sana. Nanti kalau sudah double track gapekanya diperbarui lagi," terangnya.

Apalagi kini tol mulai terhubung dari ujung sampai ke ujung Pulau Jawa. Double track akan membuat kereta api menjadi moda transportasi umum yang kompetitif.

"Kalau jalur sini ya sebenarnya ke depan butuh semuanya. Kalau tol sekarang sudah nyambung ujung jawa, single track waktu tempuhnya kurang kompetitif. Begitu sudah double track kompetitif," jelasnya.

Tidak hanya itu, double track membuat pengoperasian lebih aman.

Sebab, terdapat resiko malfungsi yang membuat kereta bertumbukan.

"Dari sisi keselamatan itu pasti sangat butuh double track. Resikonya lebih gedhe single track. Bisa ketemu. Double track kiri kanan tidak akan ketemu," ungkapnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved