Berita Boyolali
Warga Jatisari Boyolali Sudah Kondusif, Tambang Galian C yang Meresahkan Sudah Tutup
Warga Desa Jatisari, Kecamatan Sambi kini bisa bernapas lega. Sebab, tambang yang menjadi sumber keresahan mereka sudah berakhir aktivitasnya.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Emosi Warga Desa Jatisari, Kecamatan Sambi, Boyolali sudah redam.
Mediasi dengan penambang tanah urug untuk proyek tol Solo-Jogja setelah demo menghasilkan kesepakatan sesuai tuntutan warga.
Penambang mau mengakhiri kegiatannya mengeksploitasi alam di Desa Jatisari itu.
Selain itu, penambang juga akan mereklamasi lahan yang rusak, dan mengembalikan jalan usaha tani serta saluran irigasinya.
Kades Jatisari, Sambi, Jiyono mengatakan, aktivitas masyarakat mulai berjalan normal.
Berhentinya penambangan membuat gejolak masyarakat berakhir.
Masyarakat pun juga beraktivitas seperti biasa.
Ada yang berladang maupun bekerja.
Apalagi, sesuai arahan Polsek setempat agar aksi protes warga tidak anarkis.
Ditambah lagi, warga juga patuh dan tidak bertindak sesuka hati.
"Saya belum lihat (cek lokasi tambang), tapi suara mesinnya belum ada. Dari balai desa itu hanya beberapa meter, tapi kalau ada suara mesin itu kedengeran. (Jika ada penambangan, suara mesin terdengar hingga balai desa) cuman ini sepertinya belum ada," jelasnya
Sementara itu, Direktur CV Indah Konstruksi, Bambang Satriawan, diberikan waktu lima bulan untuk melakukan reklamasi.
Artinya dalam waktu lima bulan lahan yang rusak harus bisa dikembalikan lagi fungsinya.
Dapat ditanami, dan bisa diakses.
Baca juga: Tuntutan Warga Jatisari Dipenuhi, Tambang Suplai Jalan Tol Solo-Jogja di Boyolali Ditutup
"Lima bulan cukup (untuk mereklamasi)," kata Bambang.
Apalagi sebelumnya pihaknya juga sudah mulai melakukan reklamasi seperti yang dituntutkan warga ini.
"Memang tahapannya ini (tuntutan warga) ini memang sudah kita mulai. Istilahnya nyicil. Reklamasi sudah setengah kita," tambahnya.
Pengusaha tambang asal Nogosari itu juga menambahkan meski tambangnya ditutup, namun tak mengganggu proyek strategis nasional (PSN).
Sebab kebutuhan tanah urug untuk tol Solo-Jogja tinggal sedikit.
"Berkaitan dengan PSN itu, kebutuhannya kan tinggal sedikit. Jadi, walaupun tidak di demo pun kita sebenarnya sudah mau berakhir," tambahnya.
"Karena beberapa supplier kan ada. Bukan hanya dari kita saja (suplai tanah urug untuk tol Solo-Jogja). Masih banyak kuari-kuari (tanah urug) yang lain," pungkasnya.
Sebelumnya, Bambang menyatakan jika rencananya akan mengeksploitasi tanah dari Desa Jatisari seluas 35 hektar.
Namun, baru mencapai sekitar 20 hektar, muncul gejolak di masyarakat.
Amarah warga sudah mencapai puncaknya.
Tak lagi, hanya sebatas kasak kusuk.
Gelombang protes dari ratusan masyarakat hingga penutupan tambang tak bisa dibendung lagi. (*)
ALASAN Sopir Pikap Divonis 8 Bulan Bui Pasca Buat Petani Tewas Terlempar di Boyolali, Dianggap Lalai |
![]() |
---|
Sopir dalam Insiden Laka Mobil Pikap Sayur di Selo Boyolali Divonis 8 Bulan Penjara |
![]() |
---|
3 Fakta Menghitamnya Sungai di Sambi Boyolali, Pelaku Pembuang Limbah yang Cemari Diminta Bertobat |
![]() |
---|
Diduga Tercemar Limbah, Sungai di Sambi Boyolali Keruh Hitam dan Berbau |
![]() |
---|
Warga di Dua Desa Boyolali Resah, Sungai yang Biasa Mereka Gunakan Tercemar Limbah |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.