Berita Menarik

Kereta Cepat Jakarta Bandung Pernah Ditolak Ignasius Jonan: Jawa-Sentris

Menurutnya, proyek ini sangat jawa-sentris dan mengabaikan prinsip keadilan.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Ahmad Syarifudin
Dok. Unair
Ignasius Jonan Menteri ESDM RI yang juga alumni UNAIR saat memberikan orasi di Seminar Nasinal Kampus dan Revolusi Industri 4.0. 

 

Kurang layak secara bisnis

Sementara diikutip dari pemberitaan Kompas.com 3 September 2015, Jonan saat itu menegaskan, selama ini tidak perlu ada moda transportasi semacam kereta cepat untuk rute Jakarta-Bandung.

Kata dia, secara teknis, kereta cepat yang memiliki kecepatan di atas 300 kilometer per jam tidak cocok untuk rute pendek seperti Jakarta-Bandung yang hanya berjarak 150 kilometer.

Ini karena kereta peluru tidak akan mencapai kecepatan maksimal jika jaraknya sangat pendek. Belum lagi, kereta harus berhenti di beberapa stasiun.

Kalaupun dengan teknologi kereta cepat saat ini bisa melaju di atas 300 kilometer per jam dengan rute sependek itu, kecepatan tinggi tersebut juga tidak akan optimal karena hanya bertahan beberapa menit.

Untuk bisa mencapai akselerasi mencapai 300 kilometer per jam, kereta harus memiliki momentum interval jarak tertentu dan membutuhkan waktu beberapa menit. Logika ini yang menurut Jonan tidak masuk akal diterapkan dalam Kereta Cepat Jakarta Bandung.

Baca juga: Presiden Kantongi Data Parpol, Peneliti BRIN: Bisa Jadi Penyalahgunaan Kekuasaan

Perhitungan Jonan, jika di antara rute Jakarta-Bandung dibangun lima stasiun, jarak antar-satu stasiun dengan stasiun berikutnya sekitar 30 kilometer.

Kereta Cepat Jakarta Bandung sendiri awalnya direncakan memiliki 5 stasiun, namun kini diputuskan hanya 4 meliputi Stasiun Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar. Sementara Stasiun Walini tidak dilanjutkan pembangunannya.

"Kalau Jakarta-Bandung itu total misal butuh 40 menit, berarti kalau interval tiap stasiun (jika lima stasiun) adalah delapan menit. Kalau delapan menit, apa bisa delapan menit itu dari velositas 0 km per jam sampai 300 km per jam? Saya kira enggak bisa," kata Jonan.

Menurut Jonan, kereta cepat idealnya dibangun untuk rute-rute jarak jauh, misalnya Jakarta-Surabaya. Namun jarak sejauh itu akan membutuhkan biaya investasi sangat besar sehingga dinilai kurang mendesak, terlebih kereta cepat hanya akan menimbulkan persepsi Jawa sentris

Baca juga: Jokowi Tanggapi Gabungnya Kaesang Pangarep ke PSI, Singgung Soal Doa Restu

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved