Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Berita Boyolali

Dampak Kekeringan di Lereng Timur Merapi, Tiap Kemarau Warga Jual Sapi untuk Beli Makanan Sapi

Di Boyolali ada istilah sapi makan sapi. Itu adalah istilah untuk warga yang menjual sapi untuk menghidupi sapi lainnya.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Tri Widodo
Salah satu peternak sapi di Desa Lampar, Kecamatan Tamansari, Kamis (28/9/2023). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI- Tak ada cara lain yang bisa diandalkan warga Desa Lampar, Kecamatan Tamansari demi mempertahankan hewan ternaknya tetap hidup di musim kemarau ini.

Satu-satunya jalan adalah mengorbankan salah seekor sapinya untuk dijual.

Iya, sejak beberapa bulan ini masyarakat di lereng Merapi memang dihadapkan dengan masalah  air.

Selain itu, rerumputan di ladang juga banyak yang mengering.

Sehingga agar sapi tetap bisa makan, harus mengeluarkan biaya.

Minik, warga Dukuh Lampar Gede, Desa Lampar mengaku awalnya punya  tujuh ekor sapi.

Tiga babon dan dara serta dua anakan.

Untuk membeli air, dia menjual satu sapi daranya.

Baca juga: Aneh tapi Nyata, Nelayan di Jakarta Malah Temukan Sapi Hidup saat Berburu Ikan di Tengah Laut

"Kekeringan sudah terasa sejak Agustus. Saya jual daranya satu, belinya Rp 12 juta lakunya cuman Rp 10 juta. Buat beli air, pakan hijau seikat Rp 7 ribu," katanya.

Dia menyebut sudah biasa, dimusim kemarau seperti ini,  sapi makan sapi.

Kepala Desa Lampar, Kecamatan Tamansari, Edi Susanto menyebut  ternak makan ternak sering terjadi setiap tahun.

Tiap kemarau tiba, warga akan menjual salah satu ternaknya untuk menghidupi ternak lainnya.

"Karena untuk mencukupi air itu harus hutang di bank untuk beli air, harus jual ternak. Iyah, jadi ternak makan ternak. Itu hampir menyeluruh. Yang makan air besar kan sapi," ungkapnya.

Harga air bersih pertangki berkisar Rp 130 ribu - Rp 150 ribu.

Tergantung jarak tempuh pengiriman air.

Dia sendiri sudah membeli hingga delapan tangki air selama kemarau.

Karena warga hanya bisa mengandalkan pembelian air bersih.

Sampai saat ini belum ada sumber air bersih yang bisa dimanfaatkan, terutama di daerah atas (Perdukuhan yang semakin dekat dengan puncak merapi). (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved