Berita Solo

Museum Batik Danar Hadi Solo : Ada 100 Pieces Lebih Batik Zaman Kolonial Belanda, Sejak 1840

Memperingati hari batik nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober hari ini tak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi museum batik.

Penulis: Andreas Chris Febrianto | Editor: Adi Surya Samodra
TribunSolo.com / Andreas Chris
Koleksi batik zaman Kolonial Belanda sekitar tahun 1840 milik Museum Batik Danar Hadi Solo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto Nugroho

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Memperingati hari batik nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober hari ini tak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi museum batik.

Salah satunya museum Batik Danar Hadi Solo yang berada di Jalan Slamet Riyadi nomor 261.

Museum batik Danar Hadi sendiri memiliki 12 ruangan pameran yang membagi 9 jenis batik milik pengusaha batik asal Solo, Santoso Dullah yang kini diperlihatkan di museum batik miliknya.

Dari kedua belas jenis koleksi batik, ada yang menarik pandangan mata saat TribunSolo.com menyambangi museum Batik Danar Hadi.

Yakni koleksi batik yang dibuat zaman kolonial Belanda sejak tahun 1840.

Baca juga: Hari Batik Nasional, Harris Solo Berkolaborasi dengan Lokatari Gelar Lomba Tari dan Fashion Show

"Ada lebih dari 100 pieces koleksi batik zaman Kolonial Belanda yang dimiliki Museum Batik Danar Hadi. Batik tersebut dibuat dan berkembang pada masa penjajahan Belanda. Pemilik perusahaannya kala itu orang Indo-Belanda," terang Kurator Museum Batik Danar Hadi, Asti Suryo Astuti, Senin (2/10/2023).

"Tetapi yang membatik kala itu tetap penduduk setempat dimana perusahaan batik itu berada misalnya di Semarang, Surabaya termasuk Pacitan," sambungnya.

Asti menambahkan, koleksi batik zaman Kolonial Belanda milik museum Batik Danar Hadi cukup beragam baik dari jenis batik pesisir maupun batik pedalaman.

"Misalnya kalau batik Belanda itu berkembang di wilayah pesisir seperti Semarang dan Surabaya maka pengaruh warnanya bermacam-macam," ucap dia.

"Tapi kalau batik itu pabriknya berada di pedalaman seperti di Pacitan, maka akan dominan bercorak warna gelap atau coklat," tambahnya.

Baca juga: Peringatan Hari Batik ala SMKN 1 Rota Bayat Klaten: 500 Siswa, Ikut Fashion Show & Bikin Batik Tulis

Selain itu, ada perbedaan yang juga cukup mencolok dari batik buatan zaman Kolonial Belanda.

Yakni kainnya merupakan kain mori produksi Belanda pada masa itu.

"Perlu diketahui, benang atau tekstil atau kain atau morinya itu sebelum abad ke-20 itu masih impor," kata dia.

"Jadi sebagian besar dari katunnya batik Belanda itu impor karena dulu banyak mori berasal dari Inggris, Jepang, India. Tetapi tentu saja lebih banyak kain dari pabrik asal Belanda," imbuhnya.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved