Berita Solo
Museum Batik Danar Hadi Solo : Ada 100 Pieces Lebih Batik Zaman Kolonial Belanda, Sejak 1840
Memperingati hari batik nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober hari ini tak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi museum batik.
Penulis: Andreas Chris Febrianto | Editor: Adi Surya Samodra
Sementara itu Asri mengatakan bahwa pengunjung museum sering terkagum dengan koleksi batik zaman Kolonial Belanda milik Museum Batik Danar Hadi karena memiliki ciri khas yang unik.
Baca juga: Fashion Show Batik di Bandara Adi Soemarmo, Calon Penumpang Pesawat Antusias
Salah satunya adalah corak batiknya yang berpola cerita dongeng asal Eropa.
"Yang sering dikagumi oleh pengunjung dengan Batik Belanda adalah batik dengan pola cerita dongeng seperti Putri Salju, Si Kerudung Merah, dan Hanzel and Gratel," terangnya.
"Selain itu juga ada batik Perang Diponegoro, sesuai judul tapi yang membuat Noni Belanda jadi desainnya itu tentara VOC bukan tentaranya Pangeran Diponegoro,".
"Itu semua yang membedakan batik pada masa penjajahan Belanda dengan yang lain," imbuhnya.
Lebih lanjut Asri menerangkan bahwa bila dilihat dari harga pada saat sekarang, koleksi batik Zaman Kolonial Belanda milik Museum Batik Danar Hadi bisa bernilai sangat mahal.
"Harganya sangat-sangat mahal, seperti lukisan pelukis seperti Picaso, Van Gogh kan sangat mahal. Apalagi di batik ini ada tanda tangannya, karya-karya orang Belanda itu kebanyakan diberi tanda tangan. Misalnya yang dibuat pada tahun 1840 itu usianya sudah berapa tahun. Makanya pemeliharaannya juga sangat penting dan ketat," terang Asri.
"Mungkin satu kain bisa beli empat sampai lima rumah, bisa lebih Rp 1 miliar. Terutama ada penjelasan dari kain tersebut dan keasliannya," pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Batik-zaman-kolonial-belanda-koleksi-museum-batik-danar-hadi-solo.jpg)