Berita Solo

Batu Prasasti yang Ditemukan di Klaten Berisi Tulisan Tentang Seruan pada Dewa, Ada Dewa Wisnu

Batu prasasti yang ditemukan di Klaten ternyata berisi tentang seruan pada Dewa. Ini diketahui setelah dilakukan penelitian.

Tayang:
Istimewa/ Pegiat Cagar Budaya
Tim peneliti BRIN dan EFEO dari Prancis meneliti batu prasasti Nglumbang Dungik, di Desa Soropaten, Karanganom, Klaten. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Batu prasasti yang ditemukan di Klaten ternyata berisi tentang seruan pada Dewa

Penemuan itu tepatnya di Dusun Nglumbang Dungik, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten

Hal ini dijelaskan oleh Pegiat Cagar Budaya, Hari Wahyudi.

Dia membenarkan kalau isi dari batu tersebut berupa seruan untuk para Dewa

Data yang diterima TribunSolo.com, beberapa aksara isi Prasasti Nglumbang Dungik itu bertuliskan “(m) hyan wişa(ya)/wişnu, brahma hya(p) 1(n)dra (h)yan, śrawana hyan mahā, dewa weśa, tasmani da (a)tāyaji, tāya”.

"Sementara yang bisa disimpulkan isinya berupa seruan-seruan kepada para dewa, diantaranya dewa wisnu, dewa ganesha dalam istilah lain, dan dewa siwa," pungkas Hari.

Bentuk batu prasasti yang ditemukan itu berbentuk oval. 

Hari menambahkan, ada keterlibatan tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan tim dari lembaga penelitian EFEO asal negara Perancis.

Batu prasasti itu ditemukan pada pertengahan Desember 2020, sementara tim peneliti ini mengunjungi untuk penelitian pada Maret 2023.

Arkeolog dari BRIN yang diketuai Titi Surti Nastiti bersama tim dari EFEO Perancis, mereka datang ke Soropaten guna mengkaji batu prasasti tersebut.

"Kemarin Rabu (3/1/2024) melalui email dan WA menginformasikan hasil pembacaan sementara prasasti Nglumbang Dungik," ujar Hari kepada TribunSolo.com.

Baca juga: Dugaan Temuan Arca dan Yoni di Manisrenggo Klaten, Dimungkinkan Berkaitan dengan Prasasti Hayu

Dijelaskan Hari, kalau hasil penelitian mengungkapkan isi berupa seruan-seruan kepada dewa.

"Inti isi batu tersebut berupa nama-nama dewa, yang ditulis secara melingkar," jelasnya.

Kendati demikian, tim peneliti juga mendapati kesulitan untuk mengetahui perkiraan masa pembuatan batu prasasti.

"Untuk perkiraan kapan atau masa pembuatan batu prasasti, tim kesulitan. Karena jenis aksara sudah rusak," paparnya.

"Sehingga tidak bisa memperkirakan atau memprediksi aksara dari masa apa, dari jenis paleografi nya sudah rusak," tambahnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved