Berita Sragen

Tumbu Jati Gowok Sragen : Dari Mbah Manto dan Mbah Atmo Jadi Tradisi Turun Temurun

Sudah menjadi pemandangan yang biasa, ketika di setiap rumah di Dukuh Jati Gowok, Sragen, ada warga yang sedang membuat kerajinan tumbu.

Tayang:
Penulis: Septiana Ayu Lestari | Editor: Adi Surya Samodra
TribunSolo.com / Septiana Ayu
Seorang warga Dukuh Jati Gowok, di Desa Musuk, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen sedang membawa tumbu hasil buatannya. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Sudah menjadi pemandangan yang biasa, ketika di setiap rumah di Dukuh Jati Gowok, Desa Musuk, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, ada warga yang sedang membuat kerajinan tumbu.

Selain itu, hampir setiap rumah warga, di teras rumahnya terdapat banyak tumpukan tumbu.

Ya, pemandangan tersebut bahkan sudah terlihat sejak puluhan tahun yang lalu.

Membuat tumbu ini sudah seperti tradisi di Dukuh Jati Gowok, yang diturunkan secara turun temurun.

Ketua RT setempat, Suwardi (48) mengatakan aktivitas membuat tumbu ini sudah ada sejak ia kecil.

Baca juga: Mengenal Tumbu, Perkakas Dapur Tradisional yang Bisa Hidupi Warga Satu Dukuh di Sambirejo Sragen

"Iya, sudah ada sejak saya masih kecil, turun temurun sejak zaman simbah, yang pencetus pertama membuat kini sudah meninggal, dulu ada Mbah Manto dan Mbah Atmo," kata dia kepada TribunSolo.com.

"Dulu yang mengajari yang pertama ya simbah-simbah itu, ada satu, kemudian nular ke yang lain, yang masih ada hingga sekarang," sambungnya.

Diketahui, tumbu merupakan perkakas dapur tradisional yang terbuat dari anyaman bambu.

Lanjutnya, sekarang ada 40 warga di Dukuh Jati Gowok yang merupakan perajin tumbu.

Sedangkan, total ada 58 KK dan 44 rumah warga yang ada di Dukuh Gowok.

Dengan begitu, bisa dikatakan membuat kerajinan tumbu ini merupakan mata pencarian mayoritas warga Dukuh Jati Gowok, selain beternak dan bekerja di luar kota.

Baca juga: Makam Tua Mbah Bei Kerabat Keraton Solo, Bagian Sejarah Panjang Terbentuknya Desa Tangkil Sragen

"Dalam sehari bisa 200-an tumbu yang dihasilkan warga sini, ada 5 ukuran yang dihasilkan," jelas dia.

"Tumbu-tumbu dari sini sebagian dijual ke pasar, ada yang diambil tengkulak dari wilayah Karanganyar," tambahnya.

Mayoritas tumbu ini dikerjakan oleh para ibu-ibu.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved