Ramadhan 2024
Bagaimana Hukum Tadarus Al-Quran Pakai Pengeras Suara Masjid? Simak Penjelasannya
Berikut hukum tadarus Al-Quran menggunakan pengeras suara masjid saat bulan Ramadhan.
Penulis: Content Writer Tribun Solo | Editor: Naufal Hanif Putra Aji
TRIBUNSOLO.COM - Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan dan ganjaran.
Tak heran, jika setiap bulan Ramadhan umat muslim giat melaksanakan ibadah guna mendapat pahala yang berlipat ganda.
Baca juga: Jadwal Imsakiyah Klaten 21 Maret 2024, Lengkap Waktu Buka Puasa dan Niat Puasa Ramadhan Harian
Salah satu amal ibadah yang kerap dilakukan saat Ramadhan adalah Tadarus atau membaca Al-Qur’an di masjid.
Tak jarang pula banyak dari umat Islam yang memakai pengeras suara saat Tadarus, dengan dalih untuk syiar Islam, sehingga orang lain tertarik untuk ikut membaca Al-Qur’an.
Namun, hal ini justru dilarang oleh Mentri Agama.
Umat muslim di Indonesia hanya diperbolehkan menggunakan pengeras suara dalam agar tidak menggangu masyarakat sekitar.
"Khusus terkait syiar Ramadan, edaran ini mengatur agar penggunaan pengeras suara di bulan Ramadhan baik dalam pelaksanaan Shalat Tarawih, ceramah atau kajian Ramadan, dan tadarus Alquran menggunakan pengeras suara dalam," demikian bunyi SE Menag Nomor 05 Tahun 2022.
Lantas, bagaimana sebenarnya hukum Tadarus di masjid menggunakan pengeras suara?
Dilansir NU Online, tadarus atau membaca Al-Qur’an dengan pengeras suara masjid sebenarnya diperbolehkan.
Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah waktu membaca dan kondisi sekitarnya.
Tadarus Al-Qur’an dengan durasi panjang bahkan hampir sepanjang malam dengan menggunakan pengeras suara sebaiknya dihindari, karena dapat mengganggu orang yang sedang beristirahat atau orang yang memerlukan kondisi tenang.
Baca juga: Hukum Puasa Ramadhan tapi Tidak Sholat 5 Waktu, Apakah Puasanya Sah? Begini Penjelasannya
Hal ini dijelaskan oleh Sayyid Abdurrahman Ba’alawi dalam Bughyatul Mustarsyidin berikut ini:
بغية المسترشدين : جماعة يقرأون القرآن في المسجد جهراً ، وينتفع بقراءتهم أناس ، ويتشوّش آخرون ، فإن كانت المصلحة أكثر من المفسدة فالقراءة أفضل ، وإن كانت بالعكس كرهت اهـ فتاوى النووي. ومنه قراءة القرآن إلا إن شوّش على مصلّ أو أذى نائماً ، بل إن كثر التأذي حرم فيمنع منه حينئذ ، كما لو جلس بعد الأذان يذكر الله تعالى ، وكل من أتى للصلاة جلس معه وشوّش على المصلين ، فإن لم يكن ثم تشويش أبيح بل ندب لنحو تعليم إن لم يخف رياء
Artinya,
“(Pemberitahuan) sekelompok orang membaca Al-Qur'an dengan lantang di masjid. Sebagian orang mengambil manfaat dari pengajian mereka. Tetapi sebagian orang lainnya terganggu. Jika maslahatnya lebih banyak dari mafsadatnya, maka baca Al-Qur'an itu lebih utama (afdhal). Tetapi jika sebaliknya yang terjadi, maka baca Al-Quran itu menjadi makruh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ilustrasi-pengeras-suara-toa-masjid.jpg)