Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Pemilu 2024

Ahli di Sidang MK Ungkap Alasan Ganjar Bisa Kalah di Kandang Banteng : Gara-gara Blusukan Jokowi

Kandeng banteng yang dimaksud adalah provinsi-provinsi yang merupakan basis massa pendukung PDIP,  partai pengusung Ganjar-Mahfud.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
YouTube Mahkamah Konstitusi RI
Calon presiden (capres) nomor urut 3 Ganjar Pranowo - Ganjar menyinggung penyalahgunaan kekuasaan dalam sidang perdana sengketa Pilpres 2024 di Gedung MK, Jakarta, Rabu (27/3/2024). 

TRIBUNSOLO.COM - Guru Besar Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Suharko menduga ada faktor Presiden Joko Widodo yang menyebabkan perolehan suara calon presiden dan wakil presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, kalah di kandang banteng.

Kandeng banteng yang dimaksud adalah provinsi-provinsi yang merupakan basis massa pendukung PDIP,  partai pengusung Ganjar-Mahfud.

Suharko menilai, Jokowi memang sudah berencana mengunjungi daerah-daerah yang menjadi basis suara PDI-P demi menggerus elektabiltias Ganjar-Mahfud di wilayah itu.

Baca juga: Sosok Mohamad Tonny Harjono, Eks Ajudan Presiden Jokowi yang Jadi Kandidat Kuat KSAU

"Kenapa suara di lumbung nomor 3 itu turun? Saya kira karena memang by design tim pemenangan 02 melalui Pak Jokowi itu memang intensif melakukan upaya-upaya turun ke masyarakat dan kemudian dia hadir," kata Suharko dalam sidang lanjutan sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 di Mahkamah Konstitusi (MK), Selasa (2/4/2024).

Diketahui, Suharko adalah ahli yang diajukan Tim Hukum Ganjar-Mahfud untuk memberikan keterangan pada sidang hari ini.

Dia menyebut, tindakan Jokowi turun ke daerah untuk berinteraksi dengan masyarakat serta membagi-bagikan bantuan sosial menguatkan ketokohannya sebagai figur yang populis atau merakyat.

"Dan ketika kemudian dengan gerakan-gerakan atau mimik simbolik yang mengatakan dukunglah mungkin paslah nomor 2, saya kira preferensi pemilih akan terpengaruh ke sana," ujar dia.

Baca juga: Sekjen PDIP Sebut Jokowi dan Dirinya Biasa Berbohong, Respons Gibran : Pak Hasto Paling Oke

Menurutnya, secara legal-formal, Jokowi memang bukanlah seorang petahana.

Namun Jokowi dia nilai memperlihatkan keberpihakannya pada Pilpres 2024 lalu.

Terlebih kandidat yang didukung adalah menteri pertahanan yang berpasangan dengan putra sulungnya.

"Ketika dia berpihak, ketika dia tidak netral, ketika dia memaksakan anaknya untuk menjadi cawapres, secara real politik itu adalah petahana menurut saya," kata Suharko.

(*)

Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved