Solo

Bentuknya Seperti Lumpia Tapi Dinamakan Sosis Solo, Begini Sejarah Jajanan Khas Solo Jateng ini

Menurut peneliti pusat studi pandan dan gizi Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito, sosis solo adalah hasil akulturasi.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
YouTube Dapur Retro
Sosis Solo 

TRIBUNSOLO.COM - Jika di Semarang terkenal dengan jajanan lumpia-nya, di Solo terkenal jajanan yang mirip dengan lumpia, namun bernama sosis solo.

Sosis Solo ada 2 macam, sosis goreng dan sosis basah.

Keduanya sama-sama enak, namun untuk sosis goreng teksturnya lebih kering dan rasa gurihnya lebih terasa.

Baca juga: 5 Tempat Belanja Baju Murah di Solo Jateng, Langganan Para Mahasiswi Cari Outfit Kekinian

Sosis Solo biasanya berisi daging ayam cincang, namun ada juga yang berisi daging sapi.

Sosis Solo per bijinya dibandrol harga mulai Rp 3 ribu saja, tergantung isiannya.

Jika kamu penggemar jajanan Sosis Solo, pernahkah bertanya-tanya mengapa dinamakan sosis?

Padahal jajanan ini mirip dengan lumpia maupun risol.

Resep Sosis Solo Goreng Enak, Camilan Nikmat yang Bikin Tamu Ogah Pulang
Resep Sosis Solo Goreng Enak, Camilan Nikmat yang Bikin Tamu Ogah Pulang (Sajian Sedap)

Begini sejarahnya!

Menurut peneliti pusat studi pandan dan gizi Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito, sosis solo adalah hasil akulturasi.

“Sosis hasil alkuturasi dari seni dapur Eropa dan Solo, sehingga bentuknya sudah tidak sama dengan sosis-sosis lainya,” jelas wanita yang akrab disapa Murdijati itu saat dihubungi oleh Kompas.com, Senin (10/7/2020).

Sosis Solo terbuat dari daging sapi giling yang digulung di telur dadar yang sangat tipis.

Baca juga: Viral Kue Leker Gajahan Solo Jateng, Ternyata ini Asal Usul Leker Jajanan yang Tak Lekang oleh Waktu

Hidangan ini lahir karena dulunya seni dapur Jawa tidak memiliki makanan yang disebut bangsa kolonial sebagai sosis. Sosis milik orang Eropa terbuat dari adonan daging giling yang dicampur susu.

Murdijati menyebutkan unsur budaya kuliner Belanda sangat kental di Solo saat masa penjajahan.

Sebab Solo atau Kota Surakarta adalah sasaran petinggi Belanda untuk menjalin hubungan baik dengan raja-raja di Mataram Kuno.

"Orang Solo kepingin merasakan kenikmatan dari sosis orang Belanda," cerita Murdijati.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved