Berita Internasional

Pegawai Banyak yang Stres Tapi Jarang Ambil Cuti, Jepang Bakal Terapkan 4 Hari Kerja dalam Sepekan

Mengapa mereka tak mengambil cuti? alasannya karena rasa bersalah, sebagai hasil dari tekanan dan ekspektasi pada masyarakat yang gila kerja

|
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
jobsinjapan.com
Ilustrasi pekerja kantoran di Jepang 

TRIBUNSOLO.COM - Menurut pemberitaan BBC, Jepang tengah menghadapi situasi seperti epidemi pada angkatan kerjanya terkait cuti tahunan yang tidak terpakai.

Ya, pekerja/pegawai di Jepang sangat jarang ambil cuti.

Berdasarkan data terkini yang dirilis pemerintah Jepang, para pekerja hanya mengambil 52,4 persen cuti tahunan yang menjadi hak mereka pada 2018.

Mengapa mereka tak mengambil cuti? alasannya karena rasa bersalah, sebagai hasil dari tekanan dan ekspektasi pada masyarakat yang 'gila kerja'.

Setiap tahun, seorang pekerja rata-rata punya puluhan hari cuti yang menumpuk.

Baca juga: Punya 3 Anak, Adik Syahrini Bahagia Punya Keponakan Keturunan Jepang, Spill Paras Putri Reino Barack

Kini, pemerintah Jepang tengah berupaya untuk menerapkan 4 hari kerja selama sepekan.

Hal ini dilakukan untuk menurunkan tingkat stres para pekerja di Jepang.

"Perubahan pola kerja menjadi 4 hari kerja dalam seminggu sedang dalam pertimbangan untuk segera dapat diterapkan,” kata Kementerian Ketenagakerjaan Jepang.

Sebelumnya, Pemerintah Jepang telah mengkaji pola kerja lebih singkat pada 2021 silam.

Namun hanya sekitar 8 persen perusahaan di Jepang mengizinkan karyawannya untuk mengambil cuti tiga hari atau lebih per minggu, sementara 7 persen memberikan pekerja mereka satu hari libur yang diamanatkan secara hukum, menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan.

Berharap untuk menghasilkan lebih banyak peminat, terutama di kalangan usaha kecil dan menengah, Pemerintah Jepang kemudian meluncurkan kampanye "reformasi gaya kerja" yang mempromosikan jam kerja yang lebih pendek dan pengaturan fleksibel lainnya bersama dengan batasan lembur dan cuti tahunan berbayar.

Baca juga: Kesederhanaan Paus Fransiskus Disorot: Naik Pesawat Komersial dan Tak Minta Dijemput Alphard

Warga Jepang biasanya mengambil liburan pada waktu yang sama setiap tahun dengan rekan kerja mereka selama liburan Bon di musim panas dan sekitar Tahun Baru, sehingga rekan kerja tidak dapat menuduh mereka lalai atau tidak peduli.

Jam kerja yang panjang adalah sebuah norma di Jepang.

 Meskipun 85 persen pengusaha melaporkan memberi pekerja mereka dua hari libur seminggu dan ada pembatasan hukum mengenai jam lembur, yang dinegosiasikan dengan serikat pekerja dan dirinci dalam kontrak.

Namun, beberapa orang Jepang melakukan "kerja lembur", yang berarti tidak dilaporkan dan dilakukan tanpa kompensasi.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved