Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Revitalisasi Alun Alun Keraton Solo

Tetap Ada PKL Berjualan di Luar Shelter Alun-Alun Selatan, Keraton Solo Beri Izin, Ini Alasannya!

Keraton Solo mengungkap alasan sejumlah pedagang tetap diperbolehkan menggelar lapak di luar shelter yang telah dibangun.

|

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Putri Pakubuwono XIII, GKR Timoer Rumbai menjelaskan sejumlah alasan kenapa pedagang di Alun-Alun Selatan diperbolehkan menggelar lapak di luar shelter yang telah dibangun.

Padahal mulanya shelter dibangun untuk penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) agar tidak tersebar dan membuat kesan kumuh.

Salah satu alasannya, dari sekitar 300 PKL, shelter hanya bisa menampung 42 unit usaha.

Maka ia pun mengakomodasi pedagang yang tidak tertampung di shelter meski tak sebanyak dulu.

PKL DI ALUN-ALUN SELATAN. Sejumlah pedagang mulai membuka lapak PKL di Shelter Alun-alun Selatan Keraton Kasunanan Surakarta sisi barat, Minggu (9/3/2025) sore. Berbeda dengan sebelum direvitalisasi, para PKL yang membuka lapak dagangannya di dalam kawasan alun-alun Selatan kini lebih tertata rapi. Jumlahnya pun menyusut hingga separuhnya setelah dilakukan seleksi oleh pihak Keraton Solo.
PKL DI ALUN-ALUN SELATAN. Sejumlah pedagang mulai membuka lapak PKL di Shelter Alun-alun Selatan Keraton Kasunanan Surakarta sisi barat, Minggu (9/3/2025) sore. Berbeda dengan sebelum direvitalisasi, para PKL yang membuka lapak dagangannya di dalam kawasan alun-alun Selatan kini lebih tertata rapi. Jumlahnya pun menyusut hingga separuhnya setelah dilakukan seleksi oleh pihak Keraton Solo. (TribunSolo.com/Andreas Chris)

“PKL kita yang lama yang sudah kita kurasi kita pilih dan diutamakan yang ber-KTP Baluwarti dan Solo. Kalau PKL sendiri dari 300 sekarang cuma 105. Pengurangan PKL terlalu banyak kasihan juga. Mereka cari makan di alun-alun sudah puluhan tahun,” ungkapnya saat dihubungi Selasa (11/3/2025).

Selain itu, pihaknya juga butuh pemasukan lebih terutama untuk merawat Kebo Bule Kyai Slamet.

Alun-Alun Selatan selama ini menjadi salah satu yang menyumbang pemasukan cukup tinggi selain Museum Keraton.

Baca juga: Menyusut Separuh, PKL di Alun-alun Selatan Keraton Solo Tersisa 100-an, Semuanya Warga Baluwarti

“Utamanya alun-alun ada PKL mencukupi kebutuhan Kyai Slamet. Masyarakat banyak yang sudah tahu keraton bukan daerah istimewa yang punya kekayaan berlebih. Pemasukan keraton hanya dari pengelolaan museum dan alun-alun. Bukan karena maruk uang,” jelasnya.

Meski memperbolehkan PKL berdagang di luar shelter, menurutnya kebersihan tetap bisa dijaga.

Pihaknya bersama para pedagang telah berkomitmen untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan pengunjung.

“Kita bersama (pengelolaan sampah),” tuturnya.

Baca juga: GKR Timoer Harap Alun-alun Selatan Keraton Solo Bisa Dilirik Jadi Destinasi Wisata Pasca Dibuka Lagi

Sedangkan lapangan tengah hanya digunakan untuk event insidental. Wahana dan permainan anak-anak sudah tidak ada lagi.

“Hanya kalau ada event. Tidak ada pedagang tidak ada permainan anak-anak. Saat ini belum masuk (bendi),” jelasnya.

Ia memberlakukan jam operasional yang berbeda antara yang menghuni shelter dan tenda.

“Yang di shelter jualannya dari pagi. Jam operasionalnya lebih panjang dari pagi sampai malam. Kalau yang di tenda sore sampai malam saja,” tuturnya.

(*)

 

 

 

 

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved