Tradisi Wayang Kulit Penggung
Mitos di Penggung Boyolali, Tiap Tahun Wajib Gelar Wayangan, Harinya Selasa Kliwon
Bagi masyarakat Desa Penggung, Kecamatan Boyolali, pagelaran wayang kulit menjadi kegiatan wajib setiap tahunnya.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Putradi Pamungkas
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Meski nyawa taruhannya, wayangan tetap harus digelar.
Sebab, jika tidak, bencana besar akan kembali menimpa warga seperti ratusan tahun lalu.
Iya, bagi masyarakat Desa Penggung, Kecamatan Boyolali, pagelaran wayang kulit menjadi kegiatan wajib setiap tahunnya.
Bahkan, saat Pandemi covid 19 lalu, warga tetap menggelar wayangan, meskipun rawan terjadi penularan.
"Pandemi kemarin kan dua tahun. Ya dua kali tetap wayangan," kata Kepala Desa (Kades) Penggung, Suyamto, Selasa (7/4/2025).
Hal itu berkaitan dengan cerita tutur yang berkembang di masyarakat.
Suyamto yang kini sudah berusia hampir 70 tahun mendapatkan cerita dari kakeknya dulu.
Dimana saat jumlah penduduk yang belum banyak pernah terjadi bencana besar.
Masyarakat yang mayoritas petani, mengalami kejadian yang memilukan.
Hewan ternak seperti Sapi milik warga banyak yang mati.
Tetua desa saat itu pun kemudian mengajak warga untuk pindah lokasi pemukiman.
"Dulu pindahnya ke tenggara Dukuh ini. Ada di sekitar jalan Semarang -Solo saat ini," jelasnya.
Baca juga: Apa Itu Bakdan Sapi? Tradisi di Boyolali yang Masih Dilestarikan, Sapi Dirias dan Disemprot Parfum
Setelah situasinya membaik, tetua desa pun mengajak warganya untuk kembali lagi ke tanah kelahirannya di Dukuh Penggung.
Saat akan pindah itu, sang tetua kemudian berujar akan menggelar wayangan jika tempat kelahirannya tak ada lagi pagebluk.
| Bukan Sekedar Rasa, Warung Tongseng di Karanganyar Ini Ramai Gegara Pembeli Penasaran Sosok Bu Soleh |
|
|---|
| Chord Kunci Gitar dan Lirik Lagu Purnama Merindu - Vita Alvia : Purnama Mengambang, Berbagai Warna |
|
|---|
| Persis Solo Dibungkam Persik Kediri, Sutanto Tan Minta Maaf, Janjikan Kembali ke Laju Positif |
|
|---|
| Museum Keraton Solo Tutup Padahal Musim Liburan, Ternyata Sensor Pintu Jadi Kendala Revitalisasi |
|
|---|
| Penghageng Museum PB XIV Purboyo Tutup Museum Beralasan Karena Revitalisasi Belum Selesai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Persiapan-pergelaran-wayang-kulit-di-DukuhDesa-Penggung-2.jpg)