Sejarah Kuliner Legendaris
Sejarah Lenjongan Yu Sum yang Legendaris di Solo, Ada Sejak 1980an, Kini Dikelola Generasi Ketiga
Lenjongan adalah jajanan ini memiliki ciri khas terbuat dari singkong yang diolah menjadi berbagai macam makanan tradisional yang menggugah selera.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Solo, Jawa Tengah, dikenal memiliki destinasi kuliner bercitarasa manis.
Salah satu kuliner khas Solo yang sulit ditemui di daerah lain adalah lenjongan.
Lenjongan adalah jajanan ini memiliki ciri khas terbuat dari singkong yang diolah menjadi berbagai macam makanan tradisional yang menggugah selera.
Baca juga: Sejarah Soto Trisakti, Salah Satu Kuliner Legendaris Solo, Saksi Kejayaan Bioskop Era 1962an
Lenjongan biasanya terdiri dari beragam jenis makanan yang disiram dengan parutan kelapa dan gula pasir atau gula merah cair, menjadikannya semakin menggugah selera.
Lenjongan terdiri berbagai jajanan pasar yang terkenal di Solo, seperti gendar, klepon, sawut, jongkong, gatot, getuk, tiwul, cenil, ketan hitam, ketan putih, serta jagung atau yang dikenal dengan sebutan grontol.
Setiap jenis jajanan ini memiliki rasa dan tekstur yang unik, tetapi semuanya memiliki kesamaan dalam bahan dasar utamanya, yaitu singkong.
Sejarah Lenjongan Yu Sum
Di sisi timur Pasar Gede Solo, aroma manis dari kelapa parut dan gula Jawa menggoda siapa pun yang melintas.
Di sanalah Lenjongan Yu Sum berdiri sebagai salah satu ikon kuliner tradisional yang tak pernah kehilangan penggemarnya, baik warga lokal maupun wisatawan yang tengah berburu cita rasa otentik khas Jawa.
Baca juga: Sejarah Wedangan Pak Tres, Mie Nyemeknya Terkenal di Solo, Favorit Kahiyang Ayu dan Food Vlogger
Lenjongan Yu Sum adalah kudapan manis yang terdiri dari aneka olahan berbahan dasar singkong dan ketan, seperti tiwul, getuk, ketan hitam, cenil, serta disiram kuah gula Jawa kental dan ditaburi kelapa parut segar.
Harganya sangat bersahabat bagi warga Solo dan sekitarnya.
Sudah hadir sejak sekitar tahun 1980-an, lenjongan ini menjadi favorit banyak kalangan, terutama para Ibu-ibu yang usai berbelanja pagi di Pasar Gede.
Namun, tak sedikit pula pecinta kuliner dari luar Solo yang menyempatkan diri untuk mencicipi kelezatan jajanan ini karena reputasinya yang terus terjaga.
Di balik cita rasa klasik ini, ada sosok Jumiyati, generasi ketiga yang kini meneruskan usaha keluarga yang telah dirintis sejak lebih dari 40 tahun lalu oleh sang nenek, Yu Sum
Tak hanya lenjongan, lapak ini juga menawarkan jajanan tradisional lainnya seperti grontol jagung, wajik, dan jadah blondo, yang tak kalah nikmat dan kaya rasa.
Bagi penikmat kuliner gurih pedas, tersedia juga brambang asem—menu khas Jawa berupa rebusan daun ubi dan bacem tahu yang disiram kuah cabai dan gula Jawa yang pedas-manis menggugah selera.
(*)
Sejarah Sate Kelinci Bisa jadi Kuliner Khas Tawangmangu Karanganyar, Inisiatif Para Peternak |
![]() |
---|
Sejarah Ibu Basuki Bakery: Roti Legendaris Klaten Sejak 1995, dari Rumahan Kini Punya Banyak Cabang |
![]() |
---|
Sejarah Kroket : dari Kudapan Bangsa Eropa, Bisa jadi Sajian Wajib Hajatan di Solo Raya |
![]() |
---|
Sejarah Bubur Lemu, Kuliner Khas Solo yang Legendaris, Makanan Penting di Era Kasunanan Surakarta |
![]() |
---|
Sejarah Kue Kembang Jambu, Camilan Jadul Khas Klaten yang Kini Mulai Langka |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.