Fakta Menarik Tentang Klaten
Asal-usul Bukit Patrum yang Kini jadi Wisata Hits di Klaten Jateng, Ada Mitos Omah Demit
Lebih dari sekadar tempat wisata, Bukit Patrum menyimpan cerita panjang tentang masa lalu, terutama saat penjajahan Belanda.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Ada banyak destinasi wisata unik di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Salah satu yang unik dan misterius adalah Bukit Patrum.
Terletak di Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Bukit Patrum kini mulai dilirik sebagai destinasi wisata baru yang menyuguhkan kombinasi antara panorama alam dan jejak sejarah masa lampau.
Kawasan yang dulunya hanya berupa bukit tandus dan gersang, kini disulap menjadi tempat yang menarik untuk bersantai maupun berfoto, dengan latar perbukitan kapur yang eksotis.
Baca juga: Asal-usul Desa Pondok di Nguter Sukoharjo, Ada Kisah Kyai Anggamaya Seberangi Sungai Bengawan Solo
Asal-usul Bukit Patrum
Lebih dari sekadar tempat wisata, Bukit Patrum menyimpan cerita panjang tentang masa lalu, terutama saat penjajahan Belanda.
Di masa itu, kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat pertambangan kapur yang penting.
Tak hanya dikeruk secara manual, tambang ini juga memanfaatkan teknologi ledakan dengan bahan peledak—sebuah metode yang terbilang canggih untuk zamannya.
Menurut tokoh setempat, ledakan dilakukan secara berkala dengan pengamanan ketat.
Sebelum ledakan, selalu ada sirine peringatan supaya warga bisa bersembunyi.
Baca juga: Asal-usul Bukit Sidoguro yang Kini jadi Wisata Hits Klaten, Ada Kisah Abdi Kerajaan Bernama Sidagora
Bukti konkret dari sejarah ini masih bisa dijumpai hingga kini.
Di atas bukit, masih berdiri satu bangunan bekas gudang mesiu yang dulunya digunakan untuk menyimpan bahan peledak.
Dahulu, dua gudang dibangun untuk keperluan ini, namun salah satunya telah roboh dimakan waktu.

Bahan peledak sendiri didatangkan dari Magelang, sementara hasil tambang kapur dijual ke berbagai daerah.
Ledakan demi ledakan yang terjadi di masa lalu juga membentuk kontur Bukit Patrum yang tak lagi rata.
Dinding-dinding tebing yang menjulang tinggi adalah sisa dari proses eksplosif tersebut.
Bahkan, dahulu material hasil ledakan bisa meluncur sejauh 500 meter, kerap kali merusak rumah warga di sekitarnya.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas pertambangan di Bukit Patrum mulai dihentikan.
Baca juga: Asal-usul Eromoko yang Kini Jadi Kecamatan di Wonogiri, Namanya Diambil dari 2 Istilah Ini
Pemerintah melarang penggunaan bahan peledak untuk kegiatan tambang, dan tren penggunaan kapur sebagai material bangunan juga mulai menurun, tergantikan oleh semen dan pasir sungai.
Kini, kawasan ini telah berubah wajah menjadi tempat wisata alam dengan nilai edukasi sejarah.
Untuk mencapai puncak bukit, pengunjung harus mendaki anak tangga dari bambu, menyusuri jalur yang mengarah ke tebing dengan panorama menawan.
Bukit ini tidak hanya menyajikan keindahan alam khas perbukitan kapur, tapi juga menyimpan atmosfer masa lalu yang masih terasa kuat.
Baca juga: Asal-Usul Stasiun Brambanan di Klaten, Kenapa Namanya Bukan Stasiun Prambanan?
Dengan konsep wisata yang memadukan sejarah, edukasi, dan keindahan alam, Bukit Patrum berpotensi menjadi salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Klaten.
Kawasan ini cocok bagi wisatawan yang ingin mencari ketenangan, menikmati pemandangan alam yang unik, sekaligus mengenal sejarah lokal yang belum banyak diketahui publik.
Pemerintah desa dan masyarakat setempat kini terus berupaya mengembangkan Bukit Patrum agar lebih tertata dan ramah pengunjung.
Berbagai spot swafoto mulai dikemas dengan menarik, dan penambahan fasilitas dasar seperti tempat duduk, gardu pandang, serta informasi sejarah juga tengah direncanakan.
Mitos Omah Demit
Di atas bukit tersebut terdapat sebuah rumah kecil yang dulunya merupakan gudang dinamit yang terpisah karena ditambang.
Warga sekitar sempat menyebutnya sebagai omah demit.
Padahal rumah ini awalnya adalah gudang mesiu atau patrun, sejenis bahan peledak.
Tepat pada 28 Oktober 2017 bukit tersebut telah dibuka sebagai wahana spot foto ria dan dinamakan photorium.
Di sekitar bukit tersebut terdapat juga beberapa tempat wisata seperti Bukit Sidoguro dan Rowo Jombor dan Taman Nyi Ageng Rakit yang masuk wilayah Desa Krakitan.
(*)
Asal-usul Umbul Nilo Klaten, Sudah Dimanfaatkan Sejak Zaman Kolonial Belanda |
![]() |
---|
Asal-usul Nama Desa Jaten di Juwiring Klaten : Mitos Pohon Jati Raksasa dan Jejak Kerajaan Majapahit |
![]() |
---|
Asal-usul Kecamatan Karangnongko Klaten, Masih Ada Jejak Mataram Kuno di Tengah Sawah |
![]() |
---|
Kisah Pembentukan Pasoepati - Pasukan Soeporter Pelita Sejati: Berawal dari Kerusuhan 1988 di Solo |
![]() |
---|
Asal-usul Watu Sepur di Bayat Klaten, Ada Batu Tertua dan Tempat yang Dikenal Mistis |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.