Fakta Menarik Tentang Wonogiri
Mengenal Desa Bubakan di Wonogiri, Kampung Mewah Para Juragan Bakso yang Merantau ke Berbagai Daerah
Profesi yang banyak digeluti warga Bubakan di rantau adalah berdagang bakso dan jamu. Setelah berhasil, mereka membangun rumah megah di kampung
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
TRIBUNSOLO.COM - Rumah-rumah megah berjejer di Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Wonogiri, membuat kawasan ini sekilas tampak seperti komplek vila mewah di Tawangmangu, Karanganyar.
Namun, bangunan-bangunan tersebut bukanlah vila yang disewakan untuk wisatawan, melainkan rumah pribadi milik warga desa yang sukses merantau.
Menurut Sekretaris Desa Bubakan, Suparto, sekitar 70 persen dari 5.000 penduduk yang tersebar di 10 dusun ini mengadu nasib di luar daerah.
"Penduduk Desa Bubakan ada sekitar 5 ribu orang, yang tersebar di 10 dusun. Dan mayoritas mereka adalah perantauan," ujar Suparto pada TribunSolo pada 2021 lalu.
Profesi yang banyak digeluti warga Bubakan di rantau adalah berdagang bakso dan jamu.
Setelah berhasil, mereka membangun rumah megah di kampung halaman.
Banyak di antara mereka merantau hingga ke Jabodetabek, Sumatra, Kalimantan, bahkan Papua.
“Rumah yang bagus-bagus, rumah tingkat itu milik warga kami yang sukses di perantauan,” jelas Suparto.
Meski demikian, rumah-rumah tersebut sering kali kosong karena pemiliknya kembali bekerja di luar daerah setelah selesai merenovasi atau membangun rumah.
Desa akan tampak ramai hanya saat Lebaran atau ketika ada hajatan keluarga.
"Disini kalau ramainya saat lebaran, perantauan pada pulang. Kalau tidak, saat ada tetangga ada saudara yang melaksanakan hajatan," ungkap Suparto.
Baca juga: Sejarah Ndalem Kalitan di Penumping Solo, Dikenal Sebagai Rumah Keluarga Tien Soeharto
Menariknya, sebelum menjadi desa yang dikenal dengan deretan rumah mewah, Bubakan dulunya tergolong desa tertinggal dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani.
Perubahan besar terjadi sejak tahun 1980-an ketika seorang pengusaha asal Sukoharjo bernama Mbah Joyo mengajak beberapa warga merantau untuk berjualan jamu dan bakso.
“Mereka ikut Mbah Joyo, jualan jamu dan bakso, diminta menjaga cabang usaha milik beliau,” kata Suparto.
Dari pengalaman tersebut, warga kemudian belajar membuat jamu sendiri dan memulai usaha mandiri.
Tak hanya itu, mereka juga mengajak warga desa lainnya untuk ikut bekerja bersama mereka, sehingga tradisi merantau dan berwirausaha terus berlanjut hingga kini.
Baca juga: Oleh-oleh Khas Wonogiri Keripik Tempe Benguk : Harga Terjangkau, Renyahnya Bertahan hingga 3 Minggu!
(*)
| Sejarah Kenapa Banyak Perantau dari Wonogiri : dari Lahan Tandus, Sukses Jualan Mie Ayam atau Bakso |
|
|---|
| Mengenal Inthuk-inthuk : Tradisi Wetonan, Wujud Kasih Sayang Orangtua kepada Anak di Wonogiri |
|
|---|
| Sejarah Gua Maria Sendang Ratu Kenya : Wisata Religi di Wonogiri yang Punya Kisah Menyeramkan |
|
|---|
| Mitos Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Ada Legenda Gajah Sakti yang Menjaga Waduk |
|
|---|
| Asal-usul Kecamatan Jatisrono di Wonogiri, Buah Perjuangan Raden Mas Said |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Salah-satu-rumah-mewah-di-Desa-Bubakan.jpg)