Awas! Usus Buntu Mengintai Anak, Dokter Spesialis Bedah Anak RS Indriati Beberkan Gejala & Bahayanya
Kondisi berbahaya bukan terletak pada keberadaan usus buntu itu sendiri, melainkan ketika terjadi peradangan atau apendisitis.
Penulis: Anang Maruf Bagus Yuniar | Editor: Rifatun Nadhiroh
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma’ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO – Orang tua di Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit usus buntu pada anak. Penyakit ini kerap dianggap sepele, padahal berpotensi membahayakan jika terlambat ditangani.
Dokter spesialis bedah anak di Rumah Sakit Indriati, dr. Robin Perdana Saputra, menjelaskan bahwa usus buntu atau dalam istilah medis disebut apendiks merupakan organ yang dimiliki setiap orang.
Letaknya berada di antara usus besar dan usus kecil, dengan bentuk menyerupai ujung kecil seperti cacing.
Menurutnya, kondisi berbahaya bukan terletak pada keberadaan usus buntu itu sendiri, melainkan ketika terjadi peradangan atau apendisitis.
Peradangan ini umumnya disebabkan oleh sumbatan, baik dari kotoran yang mengeras, infeksi, maupun cacing yang masuk dan terperangkap di dalam lumen usus buntu.
Baca juga: Mengenal Layanan PET Scan di RS Indriati Solo Baru Sukoharjo, Deteksi Penyakit Lebih Akurat!
“Ketika terjadi sumbatan, lama-kelamaan akan menimbulkan infeksi, membengkak, hingga meradang. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa semakin parah hingga usus buntu pecah dan menyebabkan infeksi menyebar ke seluruh rongga perut,” jelasnya, Jumat (10/4/2026).
Ia menambahkan, masih banyak masyarakat yang mempercayai mitos bahwa usus buntu disebabkan oleh konsumsi biji-bijian atau makanan pedas. Padahal, hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Faktor yang lebih sering memicu justru infeksi sebelumnya, seperti batuk, pilek, atau demam berkepanjangan, yang menyebabkan pembengkakan kelenjar di sekitar usus buntu.
Selain itu, pola buang air besar yang tidak lancar atau sembelit juga menjadi salah satu pemicu utama. Kondisi ini memungkinkan kotoran kecil masuk dan menyumbat saluran usus buntu hingga akhirnya terjadi peradangan. Infeksi cacing juga dapat memperburuk kondisi tersebut.
Orang tua pun diminta lebih peka terhadap gejala awal pada anak. Nyeri perut, khususnya di bagian kanan bawah, penurunan nafsu makan, serta rasa sakit saat berjalan, buang air kecil, atau buang air besar perlu segera diwaspadai.
“Gejalanya sering mirip sakit maag, sehingga sulit dibedakan. Karena itu, penting untuk segera memeriksakan anak ke dokter agar mendapat diagnosis yang tepat,” lanjutnya.
Dalam dunia medis, apendisitis memiliki beberapa tingkat keparahan, mulai dari derajat ringan hingga berat. Pada tahap awal, penanganan masih dapat dilakukan dengan obat-obatan seperti antibiotik dan pereda nyeri yang diberikan oleh dokter.
Namun, jika kondisi sudah parah dan didukung hasil pemeriksaan laboratorium serta USG yang menunjukkan pembengkakan signifikan, tindakan operasi menjadi satu-satunya pilihan.
Baca juga: RS Indriati Solo Baru Resmikan Fasilitas Kedokteran Nuklir & Teranostik Molekuler Pertama di Jateng!
“Pada derajat paling berat, infeksi bahkan dapat menyebar ke seluruh rongga perut hingga dipenuhi nanah, sehingga operasi darurat wajib dilakukan,” kata Robin.
| RS Indriati Solo Baru Adakan Sejumlah Promo Menarik di Momen HUT ke-9: PET Scan Turun Jadi Rp9,9Juta |
|
|---|
| Harapan RS Indriati Sukoharjo HUT ke-9, Sulap Rumah Sakit Jadi 'Rumah Sehat' Lewat Health Fest |
|
|---|
| Wujudkan RS Ramah Anak dan Lansia, JCI Solo X Indriati Health Fest Geber Diskon MCU Besar-besaran! |
|
|---|
| Info Rumah Sakit di Solo yang Memiliki Layanan PET Scan, Teknologi Canggih untuk Deteksi Dini Kanker |
|
|---|
| Mengenal Layanan PET Scan di RS Indriati Solo Baru Sukoharjo, Deteksi Penyakit Lebih Akurat! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Dokter-spesialis-bedah-anak-di-Rumah-Sakit-Indriati-Dokter-Robin-Perdana-Saputra.jpg)