Catat! Agenda EIGER 2026: Ekspedisi Sumatera hingga Rangkul Pendidikan & Panjat Tebing Internasional

EIGER akan menggelar ekspedisi eksplorasi dan dokumentasi kondisi tutupan hutan yang berada di Pulau Sumatra. 

Dok. Istimewa/Dok Eiger
EIGER menyiapkan “Sertifikat Wali Pohon” sebagai tanda partisipasi konsumen dalam upaya pemulihan hutan ini.  

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Pada press conference di Melting Pop, Mbloc Space, Jakarta, Kamis (12/3/2026), EIGER Adventure resmi meluncurkan Calendar of Event 2026.

Komitmen dalam menghadirkan misi, nilai, dan aksi nyata yang berdampak bagi Indonesia, benar-benar ditegaskan EIGER sepanjang tahun ini.

Agenda pertama dimulai dari sebuah misi jangka panjang menyusuri hutan Sumatera.

Bersama National Geographic Indonesia, EIGER akan menggelar ekspedisi eksplorasi dan dokumentasi kondisi tutupan hutan yang berada di Pulau Sumatra. 

Brand Communications EIGER, Zakiy Zulkarnaen, mengatakan program ini bertujuan memperkuat kesadaran akan kekayaan ekosistem Indonesia.

Baca juga: Toko Pertama EIGER Women & Junior Dibuka di Surabaya : Titik Mula Pemberdayaan Perempuan Indonesia

Selain itu, juga sekaligus melakukan pendataan awal kondisi hutan dari Batu Sangkar (Sumatera Barat) hingga Bentang Leuser (Sumatera Utara dan Aceh). 

“Bersama National Geographic Indonesia, EIGER menginisiasi program Benih untuk Pulih – perjalanan jangka panjang yang membutuhkan usaha kolektif dari banyak pihak: komunitas penjaga hutan, masyarakat adat, pemuda, perempuan, dan lembaga pendukung,” katanya.

Menurut Zakiy, sebagai bagian dari misi ini, konsumen EIGER bisa menyumbangkan ‘benih’ ke berbagai toko EIGER terdekat.

Lewat program ini, konsumen EIGER bisa memilih untuk menjadi donatur penanaman pemulihan hutan di Sumatra.

EIGER menyiapkan “Sertifikat Wali Pohon” sebagai tanda partisipasi konsumen dalam upaya pemulihan hutan ini. 

National Geographic Indonesia sebagai partner penting dalam misi ini juga menegaskan bahwa pemulihan hutan Sumatra bukan hanya tentang penanaman pohon.  

Editor in Chief National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim, mengatakan setidaknya misi kolaborasi ini akan membutuhkan tiga fase jangka panjang.

Hal itu dimulai dari fase satu tentang pemetaan, dokumentasi dan diskusi, lalu fase dua penanaman pohon sebagai pemulihan jangka pendek, hingga fase tiga pemulihan jangka panjang lewat edukasi ke masyarakat adat.

Baca juga: EIGER Gelar Kompetisi Panjat Tebing EISCC 2025, Ratusan Atlet Seluruh Indonesia Datang ke Bandung

Mereka akan menyusur sumber air dari Batu Sangkar – Sumbar menuju Bentang Leuser di Sumut/Aceh.

Tak hanya itu, mereka juga akan memahami relasi paling dasar antara manusia, air dan hutan.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved