Nusa Putra dan Misi Mengubah Cara Pandang Bangsa

Dengan berinteraksi setiap hari, masyarakat lokal belajar melihat bahwa anak bangsa sendiri mampu berdiri sejajar, bahkan melampaui.

Tayang:
Istimewa
Dr. Agus Hendriyanto, M.Pd. 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bangsa Indonesia memiliki warisan sejarah panjang sebagai bangsa terjajah. Namun, warisan itu bukan sekadar berupa batas wilayah dan ekonomi, melainkan juga luka psikis: rasa kagum yang berlebihan terhadap bangsa lain.

Seolah-olah, kebenaran dan keunggulan selalu datang dari luar, sementara yang lahir dari dalam negeri dianggap kurang layak.

Kondisi ini mirip dengan apa yang disebut Paulo Freire sebagai mentalitas terjajah: keadaan ketika suatu bangsa bukan hanya dijajah secara fisik, melainkan juga dalam kesadarannya.

Frantz Fanon bahkan menambahkan, mentalitas itu membuat bangsa terjajah terus memandang dirinya melalui kacamata bangsa penjajah. Hasilnya: inferioritas kolektif.

Di tengah situasi inilah, Universitas Nusa Putra hadir dengan visi internasionalnya.

Namun, internasionalisasi yang dikehendaki Nusa Putra bukanlah imitasi buta terhadap Barat. I

nternasionalisasi di sini adalah strategi dekonstruksi stigma: menghadirkan mahasiswa asing terbanyak di Indonesia, bukan untuk meninggikan yang asing, melainkan untuk menunjukkan bahwa “yang asing” bukan berarti selalu unggul.

Dengan berinteraksi setiap hari, masyarakat lokal belajar melihat bahwa anak bangsa sendiri mampu berdiri sejajar, bahkan melampaui.

Lebih jauh, dorongan bagi dosen dan mahasiswa untuk menjelajah negara lain bukanlah upaya melarikan diri dari Indonesia.

Itu adalah cara agar kita menyaksikan dunia, lalu kembali dengan kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa besar.

Heidegger pernah menulis tentang authentic being—keberadaan otentik. Bagi sebuah bangsa, keberadaan otentik hanya dapat dicapai ketika ia melihat dirinya tidak melalui kaca mata bangsa lain, melainkan melalui pengalaman langsung di panggung dunia.

Saya menuliskan hal ini bukan sebagai penonton dari luar.

Saya adalah dosen dan peneliti yang sejak setahun lalu menjadi bagian dari Nusa Putra. Di ruang akademik ini, saya mengalami betapa interaksi internasional justru memperkuat keyakinan bahwa Indonesia tidak kalah.

Mahasiswa asing yang hadir di kampus ini, kolaborasi lintas negara, serta dorongan untuk keluar menjelajah dunia, semuanya mengajarkan satu hal: inferioritas adalah pilihan, dan kepercayaan diri bangsa bisa dibangun.

Di titik ini, kita perlu bersikap kritis. Internasionalisasi sering disalahpahami sebagai penyeragaman, bahkan penundukan terhadap standar global yang seringkali beraroma hegemoni Barat.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved