Ramadhan 2026

Kenapa Puasa di Solo Raya Disebut Siyam? Ini Sejarah dan Maknanya

Sebutan ini bukan sekadar variasi bahasa, melainkan mengandung makna sejarah, budaya, dan spiritual yang mendalam.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Andreas Chris Febrianto
BUKA PUASA - Ilustrasi puasa. Panitia Ramadan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo siapkan puluhan jenis menu berbuka puasa dari takjil hingga makanan berat bagi jemaah yang datang. Di Solo Raya, puasa Ramadan kerap disebut dengan istilah “siyam”, ini sejarahnya. 

Kata shaum juga ada, namun bersifat lebih umum.

Sementara shiyam memiliki makna lebih spesifik dan mendalam, menekankan aspek ruhiyah dan etika puasa.

Dalam tradisi fiqih dan hadis, Rasulullah SAW menggunakan kedua istilah ini secara bergantian, tetapi shiyam lebih sering dipakai untuk merujuk pada puasa Ramadhan yang lengkap dengan niat dan pengendalian diri.

Filosofi Spiritual di Balik “Siyam”

Menurut anggota Majelis Tabligh Muhammadiyah, M. Damami Zein, puasa atau shiyam bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan nafsu perut dan nafsu kemaluan

  • Hal ini memiliki beberapa makna:
  • Pelatihan kedisiplinan dan kesabaran: Menahan diri sejak fajar hingga magrib melatih manusia untuk lebih sabar dan tenang.
  • Mendorong kemandirian: Orang yang bisa menahan diri cenderung lebih mandiri, tidak mudah menyalahkan orang lain, dan tidak cepat marah.
  • Simbol pengendalian nafsu dalam kehidupan modern: Menahan nafsu dari perut dan kemaluan juga berarti menahan diri dari hedonisme dan gaya hidup berlebihan.

Dengan kata lain, puasa atau siyam di Solo Raya menjadi sarana pelatihan spiritual dan etika, yang tidak hanya menahan lapar, tapi membentuk karakter pribadi.

Tradisi “Siyam” di Solo Raya

Penggunaan istilah siyam dalam kehidupan sehari-hari di Solo mencerminkan integrasi budaya, bahasa, dan agama. Tidak hanya menunjukkan sopan santun, istilah ini juga menjadi simbol:

  • Kesucian ibadah puasa
  • Pembelajaran etika dan pengendalian diri
  • Warisan budaya leluhur yang harus dijaga

Sehingga ketika masyarakat Solo menyebut puasa dengan “siyam”, hal itu bukan sekadar kata, melainkan warisan spiritual dan budaya yang sarat makna.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved