Santri di Bulukerto Wonogiri Meninggal

Bupati Minta Disdikbud Evaluasi Kasus Siswa SD Tewas di Wonogiri

Bupati meminta dinas melakukan evaluasi pada sekolah-sekolah di Wonogiri. Ini terkait dengan tewasnya siswi SD karena mengalami kekerasan.

Tayang:
TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti
PENYEBAB MENINGGAL - Ekshumasi makam santri salah satu ponpes di Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, DRP (9) yang meninggal dunia dengan kondisi janggal, Selasa (17/2/2026). DRP disebut meninggal setelah mengalami kekerasan fisik dari pelaku setelah saling ejek nama orang tua. 
Ringkasan Berita:
  • Setyo Sukarno meminta Disdikbud melakukan evaluasi menyusul kasus meninggalnya siswa SD Nurul Falah, DRP (11), di Kecamatan Bulukerto yang diduga mengalami kekerasan.
  • Bupati menekankan pentingnya edukasi bagi tenaga pendidik dan orang tua agar kasus serupa dapat diantisipasi serta tidak terulang di lingkungan sekolah.
  • Ia juga menyayangkan pihak sekolah tidak segera melaporkan kejadian sesuai fakta di lapangan dan menyoroti perlunya peningkatan kesadaran hukum masyarakat.

Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk melakukan evaluasi. 

Ini terkait kasus Siswa SD Nurul Falah, DRP (11) di Kecamatan Bulukerto yang meninggal mengalami kekerasan. 

Setyo Sukarno meminta agar ada edukasi pada tenaga pendidik dan orang tua. 

"Ini supaya perilaku seperti ini bisa diantisipasi. Jadi ini menjadi PR dinas, kita kerahkan dinas," pungkasnya.

Selain itu, Bupati menyayangkan pihak sekolah tidak segera melaporkan peristiwa itu sesuai fakta yang ada di lapangan.

Ia menyoroti tingkat kesadaran hukum masyarakat.

Menurut dia, ketika ditemukan indikasi perundungan terhadap anak atau permasalahan hukum yang menyangkut anak, hal tersebut bisa segera dilaporkan ke pihak berwajib.

"Yang kita sayangkan, kenapa hal itu tidak segera dilaporkan? Maka kesadaran hukum masyarakat perlu kita tingkatkan melalui penyuluhan," jelasnya.

Selain itu, meninggalnya anak di lingkungan sekolah tersebut menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di Wonogiri.

Terlebih, belum lama ini seorang santri juga meninggal usai dianiaya sejumlah rekannya di sebuah ponpes di Manjung.

JANGGAL - Ekshumasi makam santri salah satu ponpes di Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, DRP (9) yang meninggal dunia dengan kondisi janggal, Selasa (17/2/2026). Pihak kepolisian menerima informasi dari warga mengenai kejanggalan kematian DRP
JANGGAL - Ekshumasi makam santri salah satu ponpes di Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, DRP (9) yang meninggal dunia dengan kondisi janggal, Selasa (17/2/2026). Pihak kepolisian menerima informasi dari warga mengenai kejanggalan kematian DRP (TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti)

Pemilik Yayasan hingga Driver Diperiksa

Polisi mendalami kasus meninggalnya DRP (11) di lingkungan salah satu ponpes di Kecamatan Bulukerto.

Hal yang mereka dalami adalah keterangan yang berbeda dari fakta yang disebutkan pihak sekolah. 

Pihak sekolah awalnya menyebut santri tersebut masuk angin. 

Namun, ternyata fakta di lapangan karena terjadi kekerasan hingga DRP meninggal. 

Kini polisi sudah memeriksa 9 orang terkait kasus ini. 

Ini dikatakan Kasatreskrim Polres Wonogiri, Iptu Agung Sedewo.

Dia mengatakan 9 orang ini dari pihak yayasan.

"Ada 9 orang dari pihak sekolah dan yayasan yang kita mintai keterangan," jelasnya, Kamis (19/2/2026).

Ia menjelaskan, 9 orang itu di antaranya pemilik yayasan, kepala sekolah, guru hingga driver di sekolah tersebut.

Pihaknya mendalami keterangan pihak sekolah yang tidak menyampaikan sesuai dengan fakta di lapangan, misalnya keterangan korban masuk angin.

"Kita masih mendalami hal itu," paparnya.

Pastikan Ada Kekerasan

Diketahui, hasil penyelidikan polisi membantah keterangan tersebut.

Polisi memastikan ada tindakan kekerasan yang terjadi di sekolah.

"Dari serangkaian penyidikan penyelidikan, saat ini kita sudah menetapkan anak sebagai pelaku, satu orang," kata dia, Rabu (18/2/2026).

Menurut Kasatreskrim, kedua anak itu bertengkar di dalam ruang kelas usai saling ejek pada Sabtu (14/2/2026). Dari situlah ada beberapa tindakan kekerasan.

"Masalahnya terlibat saling ejek nama orang tua dan dijodoh-jodohkan dengan teman perempuan," katanya.

Baca juga: Polres Wonogiri Periksa 9 Orang : Klaim Sekolah Soal Santri Sakit Tak Sesuai Fakta, Ada Kekerasan

Berdasarkan keterangan anak sebagai pelaku R (11), korban sempat dijegal hingga terjatuh dan kepalanya membentur lantai.

Tak sampai di situ, saat korban terduduk, R kemudian menindih tubuh korban sembari memegang leher korban lalu mendorong tubuh korban.

Saat kejadian itu, menurutnya ada tiga siswa lain yang menyaksikan. Bahkan keduanya sempat dilerai oleh teman yang menyaksikan itu.

"Kekerasan itu mengakibatkan luka yang cukup fatal," jelasnya.

Diduga kuat peristiwa itu yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Usai peristiwa itu, korban mengeluh pusing dan sempat muntah sebanyak tiga kali sebelum akhirnya dilarikan ke klinik oleh pihak sekolah.

"Meninggal dalam perjalanan, sampai rumah sakit sudah meninggal dunia," terangnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved