Kemarau di Sukoharjo

Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Lama, BPBD Sukoharjo Sebut Berbeda dengan 2025

Kemarau tahun 2026 ini akan berbeda dengan tahun 2025. Sebab, tahun ini diprediksi lebih kering dan lama.

Tayang:
TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti
ILUSTRASI. Potret surutnya Waduk di Wonogiri saat musim kemarau. Kemarau 2026 diprediksi akan lebih lama. 
Ringkasan Berita:
  • BPBD Sukoharjo memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering dan berlangsung lebih lama dibanding tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo.
  • Ariyanto menjelaskan karakter kemarau bisa berbeda tiap tahun, seperti kemarau kering pada 2023 yang berdampak luas terhadap kekeringan.
  • Berdasarkan informasi BMKG, pada 2026 ada potensi fenomena El Nino yang dapat membuat kemarau lebih kering.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM,SUKOHARJO - Kemarau tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lama. 

Ini dikatakan Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo.

Dia menjelaskan karakter musim kemarau dapat berbeda setiap tahunnya, tergantung kondisi iklim yang terjadi.

“Musim kemarau itu banyak pengaruhnya, bisa kemarau basah atau kemarau kering. Pada tahun 2023 kalau tidak salah kemarau kering sehingga dampaknya cukup luas, terutama terkait kekeringan,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Ia menambahkan, kondisi berbeda terjadi pada tahun 2025 lalu yang tergolong sebagai kemarau basah sehingga dampaknya tidak terlalu signifikan.

Namun untuk tahun 2026, berdasarkan informasi dari BMKG, terdapat potensi terjadinya El Nino yang bisa menyebabkan kemarau lebih kering dan berlangsung lebih lama.

“Menurut BMKG kemungkinan akan menuju El Nino sehingga kemarau bisa lebih kering. Dampaknya mungkin lebih signifikan dibanding tahun kemarin dan juga berpotensi berlangsung lebih panjang,” jelasnya.

Ilustrasi Kondisi lahan pertanian yang terdampak kemarau panjang di Desa Banyurip, Kecamatan Jenar, Sragen.
ILUSTRASI. Kondisi lahan pertanian yang terdampak kemarau panjang di Desa Banyurip, Kecamatan Jenar, Sragen. (TribunSolo.com / Ryantono Puji)

Bijak Memanfaatkan Air

Ariyanto mengatakan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat agar lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya air, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air.

Di Kabupaten Sukoharjo sendiri, wilayah yang paling sering terdampak kekeringan berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru.

Ketiga wilayah tersebut memiliki karakter geografis perbukitan sehingga sumber air relatif terbatas ketika musim kemarau tiba.

“Biasanya kalau musim kemarau di wilayah itu sering mengalami kesulitan air bersih. Nanti BPBD akan menyalurkan bantuan air bersih jika memang diperlukan,” katanya.

Baca juga: Kemarau Panjang Mengancam, Tiga Kecamatan di Sukoharjo Masuk Zona Waspada

BPBD Sukoharjo juga terus melakukan pemantauan kondisi di lapangan melalui jaringan relawan serta pemerintah desa yang secara berkala melaporkan perkembangan situasi di wilayah masing-masing.

Selain kekeringan, BPBD juga mengingatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering meningkat saat musim kemarau, terutama jika kondisi cuaca sangat kering.

“Kami mengimbau masyarakat agar bijak dalam penggunaan air bersih dan memilih tanaman yang tidak terlalu membutuhkan banyak air saat kemarau. Selain itu masyarakat juga harus lebih berhati-hati ketika membakar sampah, harus diawasi karena saat kemarau kering rawan terjadi kebakaran hutan maupun lahan,” pungkas Ariyanto. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved