Kemarau di Sukoharjo
Tiga Kecamatan di Sukoharjo Rawan Kekeringan, BPBD Minta Warga Hemat Air
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukoharjo mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air bersih
Penulis: Anang Maruf Bagus Yuniar | Editor: Tri Widodo
Ringkasan Berita:
- BPBD Sukoharjo mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi musim kemarau kering pada 2026.
- Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan wilayah yang rawan kekeringan berada di Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru.
- Berdasarkan informasi BMKG, tahun ini berpotensi terjadi fenomena El Nino yang dapat menyebabkan musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih lama
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukoharjo mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air bersih serta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi musim kemarau kering pada tahun 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, mengatakan secara geografis wilayah Sukoharjo memiliki beberapa daerah perbukitan yang rawan mengalami kekeringan ketika musim kemarau berlangsung cukup lama.
“Di Kabupaten Sukoharjo sendiri dampak kekeringan dan kesulitan air biasanya terjadi di tiga kecamatan, yaitu Bulu, Tawangsari, dan Weru. Memang di wilayah tersebut sumber airnya terbatas karena berada di daerah perbukitan,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Baca juga: Kemarau Panjang Mengancam, Tiga Kecamatan di Sukoharjo Masuk Zona Waspada
Baca juga: Prediksi Kemarau Mulai April 2026, Sukoharjo Waspadai Kekeringan di Wilayah Perbukitan
Ia menjelaskan karakter musim kemarau setiap tahun tidak selalu sama karena dipengaruhi kondisi iklim yang terjadi.
Menurutnya, ada kemarau basah yang dampaknya tidak terlalu signifikan terhadap ketersediaan air, namun ada juga kemarau kering yang berpotensi menimbulkan kekeringan lebih luas.
Ariyanto mencontohkan, pada tahun 2023 lalu terjadi kemarau kering yang berdampak cukup besar terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.
Sementara pada tahun 2025, kondisi kemarau cenderung lebih basah sehingga dampaknya tidak terlalu terasa bagi masyarakat.
Dampak El Nino Kemarau lebih kering
Namun untuk tahun 2026, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat potensi terjadinya fenomena El Nino yang dapat menyebabkan musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih lama.
“Kalau melihat informasi dari BMKG, kemungkinan tahun ini menuju El Nino sehingga kemarau berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibanding tahun kemarin. Dampaknya tentu bisa lebih signifikan,” jelasnya.
BPBD Sukoharjo pun terus melakukan pemantauan kondisi di lapangan melalui relawan serta pemerintah desa yang secara rutin melaporkan perkembangan situasi di wilayah masing-masing.
Apabila terjadi kekeringan dan masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, BPBD akan menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak, khususnya di daerah perbukitan.
Selain itu, Ariyanto mengimbau masyarakat agar bijak dalam memanfaatkan sumber daya air selama musim kemarau.
Warga juga diminta menyesuaikan pola tanam dengan memilih jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air untuk mengurangi risiko kerugian di sektor pertanian.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi saat musim kemarau kering.
“Kami mengimbau masyarakat agar berhati-hati ketika membakar sampah dan tetap diawasi. Pada musim kemarau kering sering terjadi kebakaran hutan maupun lahan,” pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/kemarau-sragen.jpg)