Campak di Solo Raya

Perbandingan Kasus Campak di Boyolali pada 2026 dengan 2025 : Tren Menurun, Tapi Wajib Waspada

Kasus campak Boyolali 2026 menurun dibanding 2025, Dinkes imbau vaksin MR/MMR untuk pencegahan.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Putradi Pamungkas
TribunSolo.com/Ibnu DT
VAKSIN CAMPAK - Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin campak kepada balita. Kasus campak Boyolali 2026 menurun dibanding 2025, Dinkes imbau vaksin MR/MMR untuk pencegahan. 

Ringkasan Berita:
  • Kasus campak di Boyolali menurun, dari 19 kasus pada 2025 menjadi 3 kasus hingga 31 Maret 2026.
  • Campak berisiko komplikasi serius, terutama pada anak belum divaksin, orang dewasa tanpa kekebalan, dan ibu hamil.
  • Pencegahan efektif melalui imunisasi MR/MMR, deteksi dini gejala, menjaga kebersihan, dan daya tahan tubuh.

‎Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali mencatat tren kasus campak menurun di awal 2026 dibanding tahun sebelumnya.

Pada 2025, Boyolali melaporkan 19 kasus campak.

Memasuki 2026, hingga 31 Maret, jumlah kasus tercatat hanya tiga kasus. Meski lebih sedikit, pihak Dinkes menekankan pentingnya kewaspadaan.

“Per 31 Maret 2026 sudah ada tiga kasus campak yang dilaporkan," ujar Kepala Dinkes Boyolali, FX Kristandiyoko saat ditemui Senin (6/4/2026).

CAMPAK PADA ANAK - Ilustrasi campak pada anak. Kasus campak Boyolali 2026 menurun dibanding 2025, Dinkes imbau vaksin MR/MMR untuk pencegahan.
CAMPAK PADA ANAK - Ilustrasi campak pada anak. Kasus campak Boyolali 2026 menurun dibanding 2025, Dinkes imbau vaksin MR/MMR untuk pencegahan. (Dok. Istimewa/Kemenkes)

Campak dan Risiko Komplikasi

Campak disebabkan oleh virus Morbillivirus dan dapat menimbulkan gejala demam dan ruam.

Risiko komplikasi serius tetap tinggi, terutama bagi:

  • Anak yang belum divaksin
  • Orang dewasa tanpa kekebalan
  • Ibu hamil
  • Mereka dengan sistem imun lemah

Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi infeksi telinga, pneumonia, ensefalitis, dehidrasi, kebutaan, kelahiran prematur, atau keguguran.

“Risiko komplikasi lebih tinggi pada anak yang belum divaksin, orang dewasa yang belum memiliki kekebalan, serta mereka dengan sistem imun lemah,” jelas Kristandiyoko.

Baca juga: ‎Kasus Campak Mulai Muncul di Boyolali, Dinkes Catat 3 Kasus hingga Maret 2026

Strategi Pencegahan dan Imunisasi

Dinkes Boyolali menekankan langkah pencegahan untuk menekan penyebaran campak, antara lain:

  • Edukasi dan promosi kesehatan tentang pentingnya imunisasi
  • Kolaborasi lintas sektor
  • Pemantauan melalui sistem kewaspadaan dini
  • Respons cepat terhadap kasus suspek campak

Vaksinasi MR (Measles-Rubella) dan MMR (Measles-Mumps-Rubella) menjadi cara paling efektif, dengan jadwal imunisasi:

  • 9 bulan: MR dosis pertama
  • 18 bulan: MMR dosis kedua
  • 5–7 tahun: Booster MMR

“Usia 9 bulan diberikan vaksin MR dosis pertama, usia 18 bulan vaksin MMR dosis kedua, dan usia 5-7 tahun booster MMR,” terangnya.

Baca juga: Catatan Dinkes Karanganyar : 55 Orang Suspek Campak Sejak Januari 2026, 8 Terkonfirmasi Positif

Imbauan untuk Masyarakat

Masyarakat diminta mengenali gejala awal campak, seperti demam dan ruam, dan segera ke fasilitas kesehatan. Upaya pencegahan lain meliputi:

  • Menjaga kebersihan tangan
  • Memakai masker saat sakit
  • Menghindari kontak dengan penderita
  • Menjaga daya tahan tubuh

“Dengan langkah pencegahan ini, masyarakat bisa melindungi diri dan orang di sekitarnya dari campak,” ujar Kristandiyoko.

Ia mengajak warga aktif memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap:

“Mari kita waspada dan lakukan vaksinasi untuk mencegah penyebaran campak di Boyolali. Kita harus bekerja sama melindungi generasi masa depan,” pungkasnya.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved