Banjir di Solo Raya
Genangan Banjir di Joyotakan Solo Memerah, Diduga akibat Pewarna Tekstil
Banjir di Joyotakan, Serengan, Solo menarik perhatian, ini lantaran air berubah merah akibat pewarna tekstil.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ryantono Puji Santoso
Ringkasan Berita:
- Genangan banjir di Joyotakan, Serengan, Solo berubah merah, diduga akibat pewarna tekstil yang terbawa air dari pinggir Sungai Wingko.
- Air belum surut hingga sore karena debit sungai masih tinggi, sehingga genangan belum bisa dialirkan dan harus menunggu untuk dipompa.
- Warga menyebut pewarna sudah lama jatuh dari mobil, lalu larut saat banjir. Hingga kini belum ada laporan gangguan kesehatan akibat genangan tersebut.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Genangan banjir di Kelurahan Joyotakan, Serengan, memerah pada Rabu (15/4/2026).
Lurah Joyotakan, Bambang Kristianto, mengungkapkan warna merah ini diduga akibat pewarna tekstil yang dibuang di pinggir jalan dekat Sungai Wingko di RT 3 RW 6 tersebut.
“Kita telusuri, di sekitar sini ada plastik, di dalamnya ada semacam pewarna yang memudar. Sehingga mungkin karena pekatnya pewarna itu sampai merata seperti ini,” ungkapnya saat ditemui di lokasi kejadian.
Hingga pukul 17.00 WIB, genangan yang memerah masih terjebak di jalan.
Pasalnya, hingga kini debit air Sungai Wingko masih sangat tinggi.
Baca juga: Banjir Sukoharjo Belum Surut, Kampung Tanjunganom Grogol Masih Tergenang hingga Malam
Nantinya, jika debit air di sungai ini sudah surut, air di genangan tersebut akan dipompa ke sungai.
“Tadi pagi pintu air yang ini menutup, kurang ke bawah kita tutup. Air ini sudah terlanjur tidak bisa keluar. Jadi kalau ini sudah surut, kita buka, airnya masuk lagi,” tuturnya.
Hingga kini belum ada masalah kesehatan yang timbul akibat genangan ini.
Sejumlah warga berlalu lalang di jalan tersebut dan tidak ada yang mengeluhkan masalah kulit seperti gatal atau sejenisnya.
“Belum ada terkait masalah kesehatan,” jelasnya.
Berasal dari Sebuah Mobil
Warga RT 3 RW 6 Joyotakan, Rusdi, menjelaskan pewarna tekstil ini sudah cukup lama jatuh dari sebuah mobil.
Mulanya oleh warga dipinggirkan agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
Namun saat banjir datang, pewarna tersebut larut dan membuat genangan berwarna merah.
“Itu sudah lama sekali barang itu jatuh, ada mobil lewat. Sama warga dipinggirkan. Itu kan lama sekali kering. Kena air jadi merah. Satu kemasan seperti karung itu. Biasanya tekstil. Yang sering lewat sini kan tekstil,” terangnya. (*)
| Air Banjir Campur Oli di Kwarasan Sukoharjo Berasal dari Garasi Bus, PO Diminta Tanggung Jawab |
|
|---|
| Evaluasi Banjir Sungai Jenes Solo, Respati Bakal Lakukan Taludisasi dan Tertibkan Bangunan Liar |
|
|---|
| Air Banjir di Kwarasan Sukoharjo Sempat Menghitam dan Viral, Ternyata dari Limbah Oli Bekas Bus |
|
|---|
| Aktivitas Warga Grogol Sukoharjo Setelah Banjir: Bersih-bersih Rumah |
|
|---|
| Cerita Ketua RT Tanjunganom Sukoharjo Saat Banjir: Warga Mengungsi ke Rumah Bertingkat dan Pos Ronda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Banjir-MErah-solo-245.jpg)