Banjir di Solo

Fenomena Warga Keluarkan Kasur dan Perabotan di Sukoharjo, Bukan untuk Dijual, tetapi Ini Alasannya

Perabotan rumah itu dikeluarkan bukan hendak dijual, tetapi karena bencana banjir melanda Solo Raya.

Tayang:
TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar
JEMUR KASUR - Pemandangan kasur, pakaian, hingga berbagai perabot rumah tangga yang dijemur tampak menghiasi Kampung Tanjunganom RT IV RW V, Kelurahan Kwarasan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (16/4/2026). 

“Kalau tahun 2007 itu paling parah, bahkan terjadi dua kali. Kalau kemarin ini termasuk cukup parah,” ujarnya.

Ia menyebut, ketinggian air saat banjir mencapai sekitar 80 sentimeter hingga satu meter, bahkan hampir setinggi leher orang dewasa.

Sementara pada tahun 2007, ketinggian air disebut lebih dari satu meter.

Menurutnya, wilayah Tanjunganom memang kerap dilanda banjir karena lokasinya yang berada dekat dengan aliran anak sungai yang mengarah ke Sungai Solo.

Namun, banjir kali ini diperparah oleh kiriman air dari wilayah hulu.

“Sebetulnya di sini sering banjir karena dekat anak sungai yang mengarah ke Solo. Tapi kemarin itu juga karena kiriman dari Boyolali dan Klaten, jadi airnya cepat naik dan cukup tinggi,” pungkasnya. 

Penjelasan BMKG

Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi di wilayah Jawa, termasuk Solo, dipengaruhi oleh faktor cuaca yang berasal dari fenomena siklon tropis yang berada di sekitar barat daya Sumatra.

Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin, menyampaikan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh bibit siklon tropis 92S yang terpantau mulai pada 14 April 2026 di sekitar wilayah barat daya Sumatra.

Meskipun bibit siklon tersebut semakin menjauh dari Indonesia, dampaknya masih dapat dirasakan di beberapa wilayah, termasuk Solo.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Solo Har Ini Kamis 16 April 2026 : Potensi Hujan Ringan Menurut BMKG

Miming menjelaskan bahwa meskipun bibit siklon ini berada di posisi yang semakin jauh dari wilayah Jawa, fenomena ini tetap berpengaruh terhadap kondisi cuaca ekstrem secara lokal.

"Meski semakin menjauh, dampaknya bisa memengaruhi kondisi cuaca ekstrem di wilayah sekitar," jelas Miming dalam keterangan resmi yang diterima oleh Kompas.com pada Rabu (15/4/2026).

AKTIVITAS WARGA. Banjir menggenang pemukiman warga Dukuh Ngampon, Desa Kismoyoso, Kecamatan Ngemplak, Rabu (15/4/2026).
AKTIVITAS WARGA. Banjir menggenang pemukiman warga Dukuh Ngampon, Desa Kismoyoso, Kecamatan Ngemplak, Rabu (15/4/2026). (TribunSolo.com/Istimewa)

Apa Itu Bibit Siklon Tropis 92S?

Bibit Siklon Tropis 92S pertama kali terdeteksi pada 14 April 2026 pukul 07.00 WIB di wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta.

Berdasarkan laporan BMKG, pusat sirkulasi sistem tersebut berada di sekitar 11,5 derajat lintang selatan dan 95,6 derajat bujur timur, tepatnya di Samudra Hindia barat daya Banten.

Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot (28 km/jam) dengan tekanan udara minimum 1006 hPa. Dalam beberapa jam terakhir, aktivitas konvektif di sekitar bibit siklon terlihat semakin meningkat.

Pembentukan awan yang semakin terkonsolidasi dan meluas menandakan bahwa bibit siklon ini dapat berkembang lebih lanjut, meskipun analisis BMKG menunjukkan bahwa potensi penguatan menjadi siklon tropis dalam waktu dekat masih relatif rendah.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved