Musim Kemarau di Boyolali
Warga Solo Raya Jangan Bakar Sampah Sembarangan! Waspada Fenomena El Nino, Kemarau Lebih Panas
Kebakaran lahan kerap dipicu aktivitas pembersihan lahan dengan cara dibakar oleh pemiliknya.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Rifatun Nadhiroh
Ringkasan Berita:
- Fenomena El Nino diperkirakan membuat musim kemarau 2026 lebih panas dan kering, sehingga meningkatkan risiko kebakaran lahan.
- Warga diimbau tidak membersihkan lahan dengan cara dibakar, termasuk membakar sampah di lahan kosong.
- Kebakaran kerap dipicu api yang ditinggalkan hingga merembet, dan biasanya baru dilaporkan setelah membesar.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Fenomena El Nino diperkirakan akan mempengaruhi musim kemarau 2026.
Kemarau disebut akan lebih panas.
Terkait fenomena ini, warga diingatkan agar tidak membersihkan lahan dengan cara dibakar.
Apalagi membakar sampah di lahan kosong.
Kabid Damkar Satpol PP Boyolali, Supriyono, mengatakan risiko kebakaran lahan meningkat seiring kondisi kekeringan dan banyaknya material kering yang mudah terbakar.
“Kalau musim panas, risikonya kebakaran lahan pasti lebih besar karena banyak kekeringan. Kemudian, barang-barang kering itu mudah terbakar,” ujarnya, Senin (6/3/2026).
Ia menjelaskan, kebakaran lahan kerap dipicu aktivitas pembersihan lahan dengan cara dibakar oleh pemiliknya.
Tak jarang, api yang ditinggalkan kemudian merembet ke area lain dan memicu kebakaran lebih luas.
Menurutnya, setelah api membesar dan mengganggu lingkungan sekitar, warga biasanya baru melaporkan kejadian tersebut ke petugas Damkar.
Jangan Bakar Sampah Dekat Kandang Ternak
Selain itu, Supriyono juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah di sekitar kandang ternak.
Pasalnya, kebiasaan tersebut berisiko memicu kebakaran kandang.
“Biasanya sampah basah dibakar untuk menghasilkan asap guna mengusir serangga di kandang. Tapi, ini justru berpotensi menimbulkan kebakaran,” jelasnya.
Baca juga: Dampak El Nino di Karanganyar, Petani Bawang Panen Justru Lebih Cepat, Ini Sebabnya
Meski saat ini laporan kebakaran lahan di Boyolali masih relatif sedikit, Supriyono menegaskan potensi peningkatan kasus tetap ada seiring datangnya musim kemarau.
Pihaknya pun memastikan kesiapsiagaan personel dan sarana prasarana untuk menghadapi kemungkinan tersebut.
“Kita tetap bersiap, stand by bersama sarpras. Untuk sarpras insyaallah lengkap,” tambahnya.
Ke depan, Damkar Boyolali juga akan terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat guna menekan angka kebakaran lahan.
“Kami akan terus sosialisasi karena itu sangat efektif untuk menekan kasus kebakaran lahan,” pungkasnya.
Baca juga: Petani Karanganyar Diimbau Tak Panik Hadapi El Nino, Wajib Terapkan Pola Budidaya Hemat Air
(*)
| 5 Rekomendasi Wisata di Wonogiri Jateng untuk Liburan Hari Buruh 2026, Spot Hits dan Instagramable |
|
|---|
| Satu Lagi Korban Kecelakaan KRL Bekasi Dimakamkan di Wonogiri, Perempuan Warga Baturetno |
|
|---|
| BREAKING NEWS : Staf RSCM Jadi Korban Kecelakaan KRL Bekasi, Dimakamkan di Boyolali |
|
|---|
| Asal-usul Nama Desa Girpasang di Klaten : Ada Legenda Ki Trunosono Membuka Lahan di Lereng Merapi |
|
|---|
| Rekomendasi Wisata di Wonogiri : Bukit Cumbri Tawarkan View Alam Indah untuk Pendaki Pemula |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Damkar-Satpol-PP-Klaten-memadamkan-kebakaran-lahan-tebu-di-Ceper-Klaten-Minggu-682023.jpg)