Antisipasi Hantavirus

Kenali Hantavirus, Penyakit dari Tikus yang Bisa Sebabkan Gangguan Pernapasan dan Ginjal

Sukoharjo mengantisipasi adanya hantavirus, penularannya lewat tikus dan kotorannya. Walau belum ada kasus diminta waspada.

Tayang:
Istimewa/Dok Dinkes Boyolali
ILUSTRASI. Pembedahan tikus yang tertangkap untuk dilakukan uji laboratorium di Boyolali beberapa waktu lalu. Warga Sukoharjo diingatkan untuk mengantisipasi hantavirus, sebab penularannya lewat tikus. 

Ringkasan Berita:
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo menjelaskan hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui tikus dan kotorannya. 
  • Gejala awal hantavirus meliputi demam tinggi mendadak, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, batuk, hingga sesak napas. Pada kondisi berat dapat memicu gangguan pernapasan dan ginjal.
  • DKK Sukoharjo mengimbau warga menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan sarung tangan saat membersihkan area tercemar, serta tidak langsung menyapu kotoran tikus yang sudah kering.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Penyakit hantavirus kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kasus ditemukan di Indonesia dalam dua tahun terakhir, mulai 2024 hingga 2026.

Kementerian Kesehatan mencatat puluhan warga terinfeksi virus yang ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya tersebut, bahkan beberapa di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, Tri Tuti Rahayu, menjelaskan hantavirus merupakan penyakit yang penularannya berkaitan erat dengan tikus maupun kotoran hewan pengerat tersebut.

“Hantavirus itu adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengan faktor penularan di antaranya melalui tikus,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, seseorang yang dicurigai terpapar hantavirus akan menjalani screening awal berdasarkan faktor risiko.

Petugas kesehatan nantinya akan menanyakan riwayat aktivitas pasien, terutama kemungkinan kontak dengan tikus atau kotorannya dalam kurun waktu satu hingga delapan minggu terakhir.

“Biasanya petugas akan menanyakan apakah dalam satu sampai delapan minggu terakhir ada kontak dengan tikus atau kotorannya, apakah di lingkungan tempat tinggal banyak tikus, atau ada aktivitas tertentu yang berisiko,” terangnya.

Menurut Tri Tuti, gejala awal hantavirus umumnya berupa demam tinggi mendadak, nyeri otot berat, sakit kepala, mual, muntah, batuk, hingga sesak napas.

Badan Terasa Lemas

Kondisi tubuh penderita juga biasanya terasa lemas.

“Gejalanya bisa berupa demam tinggi mendadak, nyeri otot berat, sakit kepala disertai mual muntah, batuk, sesak napas, dan tubuh terasa lemas,” jelasnya.

Pada kondisi yang lebih berat, hantavirus dapat memicu gangguan pernapasan serius, penurunan tekanan darah, hingga gangguan ginjal yang membutuhkan penanganan intensif.

“Kalau sudah berat biasanya bisa terjadi gangguan pernapasan, tekanan darah menurun, sampai gangguan ginjal,” ungkapnya.

Untuk memastikan dugaan paparan hantavirus, petugas kesehatan akan melakukan screening lanjutan dan pemeriksaan darah lengkap.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga mengutamakan pemeriksaan lingkungan apabila ditemukan gejala yang mengarah pada paparan virus tersebut.

Baca juga: Dinkes Solo Siapkan Obat-Obatan di Puskesmas dan RS Antisipasi Hantavirus

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved