Perlintasan Kereta Api di Sukoharjo
Kerap Dilewati Warga ke Sawah Tiap Hari, Perlintasan Liar di Plumbon Sukoharjo Resmi Ditutup
Perrlintasan itu selama ini dipakai warga untuk aktivitas sehari-hari menuju sawah. Namun tidak diimbangi fasilitas keselamatan yang memadai
Penulis: Anang Maruf Bagus Yuniar | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Ringkasan Berita:
- PT KAI Daop 6 menutup perlintasan sebidang liar di Desa Plumbon, Mojolaban, Sukoharjo, Selasa (19/5/2026) karena dinilai membahayakan warga dan perjalanan kereta api.
- Perlintasan tanpa pintu pengaman, rambu, dan penjaga itu sering digunakan warga menuju area persawahan sehingga berisiko tinggi terjadi kecelakaan.
- Sepanjang 2026, KAI Daop 6 sudah menutup tujuh perlintasan liar dan menargetkan belasan titik lain di jalur Batara Kresna Solo-Wonogiri.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO – Perlintasan sebidang tanpa palang pintu dan tanpa penjaga di Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, resmi ditutup PT Kereta Api Indonesia (KAI), Selasa (19/5). Jalur tersebut selama ini kerap digunakan warga untuk menuju area persawahan, namun dinilai membahayakan karena minim fasilitas keselamatan.
Penutupan dilakukan PT KAI Daop 6 sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api maupun masyarakat yang melintas di sekitar jalur rel.
Deputy Executive Vice President (EVP) PT KAI Daop 6, Rahim Ramdhani, mengatakan perlintasan tersebut masuk kategori rawan karena tidak dilengkapi pintu pengaman maupun petugas penjaga.
“Kegiatan ini merupakan salah satu agenda rutin KAI pusat dalam meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api. Kali ini kami berada di Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, salah satu titik yang kami nilai perlu dilakukan peningkatan keselamatan dengan cara menutup perlintasan sebidang,” ujar Rahim, Selasa (19/5).
Menurut Rahim, perlintasan itu selama ini dipakai warga untuk aktivitas sehari-hari menuju sawah. Namun tingginya mobilitas warga tidak diimbangi fasilitas keselamatan yang memadai.
Baca juga: 8 Perlintasan Kereta Api di Sragen Masih Tanpa Penjaga Resmi, Warga Swadaya Jaga
“Lokasi ini biasanya digunakan warga untuk aktivitas sehari-hari ke sawah. Risikonya sangat tinggi karena memang tidak ada rambu-rambu, tidak ada penjagaan, dan lalu lintas warga juga cukup padat. Jadi penutupan ini salah satu upaya kami meningkatkan keselamatan, baik bagi perjalanan kereta api maupun masyarakat,” jelasnya.
Diimbau Gunakan Perlintasan Resmi
PT KAI memastikan masyarakat masih bisa menggunakan akses perlintasan resmi yang lokasinya tidak jauh dari titik penutupan.
“Sebetulnya di sebelahnya, kurang lebih 300 meter, sudah ada pintu perlintasan yang dijaga dan aman dilalui pengendara maupun warga,” katanya.
Rahim menambahkan, penutupan perlintasan liar tidak hanya dilakukan di Sukoharjo, tetapi juga di sejumlah wilayah lain sepanjang Daop 6.
Baca juga: Nasib Malang Penjaga Palang Kasus Batara Kresna vs Sigra di Sukoharjo, Ditahan 2 Hari Jelang Nikah
Targetkan Penutupan Belasan Titik Lain
Sepanjang tahun 2026, PT KAI Daop 6 telah menutup tujuh perlintasan sebidang liar. Sementara sepanjang tahun sebelumnya terdapat 16 titik yang sudah ditutup.
“Kalau tahun ini sudah ada tujuh perlintasan yang ditutup. Tahun sebelumnya ada 16 titik. Ini akan terus berjalan karena tujuannya untuk keamanan bersama,” ungkap Rahim.
PT KAI juga menargetkan penutupan belasan titik perlintasan liar lainnya sepanjang tahun ini, terutama di jalur Batara Kresna yang melintasi wilayah Wonogiri, Sukoharjo, hingga Solo.
“Target tahun ini kemungkinan belasan titik lagi. Program ini akan terus berjalan di beberapa lokasi, khususnya jalur Batara Kresna mulai dari Wonogiri, Sukoharjo sampai Solo,” tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/PT-Kereta-Api-Indonesia-KAI-melakukan-penutupan-perlintasan-sebidang.jpg)