Rumah Roboh di Boyolali

Rumah Roboh, Warga Sindon Boyolali Tidur di Tanah Beralaskan MMT Bekas

Nasib Bunyahmin kini merana, sejak rumahnya roboh, dia hanya tidur beralaskan tanah.

Tayang:
Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Tri Widodo
BERALASKAN TANAH. Bunyahmin (57) warga Dukuh Desa Sambiroto, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Boyolali ditemui pada Rabu (20/5/2026). Dia kini tidur beralaskan tanah sejak rumahnya ambruk. 
Ringkasan Berita:
  • Bunyahmin (57), warga Desa Sindon, Ngemplak, Boyolali, kini tidur di halaman rumahnya yang roboh rata dengan tanah. 
  • Meski harus tidur di tanah berbatu dan menumpang di emperan tetangga saat hujan, Bunyahmin tetap terlihat tegar dan menerima musibah yang menimpanya dengan ikhlas.
  • Hidup sebatang kara, Bunyahmin sejak kecil diasuh neneknya setelah ditinggal sang ibu. Sejak lulus SD, ia bekerja serabutan mulai dari buruh penggergajian kayu hingga tukang becak.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Terik matahari siang menyinari puing-puing rumah kayu di Dukuh Desa Sambiroto, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Boyolali.

Di antara sisa reruntuhan itu, Bunyahmin (57) tampak berdiri santai sembari sesekali memandangi rumahnya yang telah rata dengan tanah.

Tak terlihat raut kesedihan berlebihan di wajah buruh tani tersebut.

Wajahnya justru tampak tenang menerima kenyataan pahit yang menimpanya.

Sudah dua malam terakhir, Bunyahmin tidur di halaman terbuka tepat di depan bekas rumahnya.

Beratapkan langit dan ditemani lampu penerangan jalan kampung, ia beristirahat di tanah seadanya.

Saat ditemui, Bunyahmin berjalan ke arah semak-semak di dekat puing rumahnya.

Dari tempat itu, ia mengambil dua lembar MMT bekas yang sengaja disimpannya.

Baca juga: Bocah SD di Boyolali Selamat dari Maut, Teras Rumah Roboh Tertimpa Pohon saat Angin Kencang

Dua lembar MMT itu kemudian digelar di atas tanah yang akan dipakainya untuk tidur malam nanti.

"Ya tidur di sini ya enggak masalah," ujarnya.

Permukaan tanah di lokasi tersebut sebenarnya tidak rata dan dipenuhi batu-batu kecil.

Namun kondisi itu tak dipermasalahkan Bunyahmin.

“Mboten nopo-nopo, namung dienggo sare men. (Tidak masalah, cuma buat tidur saja),” katanya pelan.

Kalimat itu diucapkannya dengan nada ikhlas.

Tak ada keluhan panjang dari lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani tersebut.

Bila Hujan, Numpang di Rumah Tetangga

Sesekali ia hanya tersenyum kecil ketika ditanya bagaimana dirinya bertahan setelah rumah peninggalan orang tuanya roboh mendadak.

Jika malam turun dan hujan datang, Bunyahmin mengaku hanya bisa menumpang berteduh di emperan rumah tetangga.

Selama ini, Bunyahmin yang terhitung masih kerabat Bupati Boyolali, Agus Irawan, itu memang tinggal sebatang kara di rumah tua peninggalan eyangnya.

Bunyahmin tidak menikah.

DAPAT SANTUNAN. Kapolsek Ngemplak, AKP Widarto saat memberikan bantuan kepada Bunyahmin, warga Dukuh Sambiroto, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, yang rumahnya rata dengan tanah, Rabu (20/5/2026). Rumahnya tiba-tiba ambruk.
DAPAT SANTUNAN. Kapolsek Ngemplak, AKP Widarto saat memberikan bantuan kepada Bunyahmin, warga Dukuh Sambiroto, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, yang rumahnya rata dengan tanah, Rabu (20/5/2026). Rumahnya tiba-tiba ambruk. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Sejak usia sebulan, dia sudah ditinggal ibunya untuk selama-lamanya.

Ayahnya pun tak memikirkan dirinya.

Ayahnya kemudian menikah lagi.

Dia kemudian diasuh oleh neneknya.

Sejak lulus SD, dia melalang buana ke berbagai daerah sebagai buruh kasar.

Mulai dari buruh di penggergajian kayu, tukang becak, dan sebagainya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved