Kisah Inspiratif di Boyolali
Kala Pepaya Muda dari Boyolali Disulap Jadi Abon hingga Permen, Panen Cuan Tembus Pasar Luar Jawa
Pepaya muda di Boyolali diolah jadi abon, keripik, dan permen bernilai ekonomi tinggi
Penulis: Tri Widodo | Editor: Putradi Pamungkas
Ringkasan Berita:
- Wahyu Nugraheni (43), warga Desa Karangnongko, Mojosongo, Boyolali, sukses mengolah pepaya muda menjadi abon, keripik, dodol, permen, dan manisan bernilai jual tinggi.
- Ide usaha muncul pada 2020 saat pandemi. Berawal dari abon pepaya untuk konsumsi sendiri, produk tersebut mendapat respons positif dari warga.
- Kini abon pepaya menjadi produk unggulan dengan penjualan mencapai 100 kilogram per bulan dan dipasarkan hingga Solo, Yogyakarta, serta Jawa Barat.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Pepaya muda yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pelengkap kebutuhan rumah tangga atau pakan ternak kini menjadi sumber penghasilan menjanjikan bagi warga Desa Karangnongko, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.
Melalui kreativitas seorang pelaku UMKM bernama Wahyu Nugraheni (43), buah pepaya yang melimpah di desa tersebut berhasil diolah menjadi berbagai produk makanan bernilai jual tinggi, mulai dari abon, keripik, dodol, permen, hingga manisan.
Berawal dari Pepaya yang Melimpah di Pekarangan Warga
Di Desa Karangnongko, pohon pepaya tumbuh hampir di setiap pekarangan rumah warga.
Selama bertahun-tahun, buah pepaya muda kerap dianggap biasa dan belum dimanfaatkan secara maksimal.
Melihat kondisi tersebut, Wahyu Nugraheni atau yang akrab disapa Yuni mencoba mencari cara agar hasil panen pepaya memiliki nilai tambah.
“Aroma gurih abon memenuhi dapur rumahnya siang itu. Di sudut ruangan, irisan pepaya muda terlihat ditata rapi sebelum masuk proses pengolahan. Tidak hanya abon, pepaya kini disulap menjadi keripik, dodol, permen, hingga manisan. Dulu banyak pepaya yang tidak dimanfaatkan maksimal. Karena bahannya melimpah, saya berpikir kenapa tidak dicoba diolah,” ujar perempuan yang akrab disapa Yuni itu, belum lama ini.
Bermula dari Eksperimen Saat Pandemi
Ide mengolah pepaya muda menjadi produk pangan muncul pada 2020, saat pandemi Covid-19 membuat banyak usaha mengalami penurunan.
Di tengah kondisi tersebut, Yuni justru mulai bereksperimen dengan bahan baku yang mudah ditemukan di sekitar rumahnya.
Awalnya, ia hanya membuat abon pepaya untuk konsumsi keluarga dan dibagikan kepada tetangga.
Tak disangka, respons masyarakat cukup positif.
Banyak warga yang menyukai cita rasa abon pepaya buatannya.
Dari situlah usaha rumahan tersebut mulai berkembang secara perlahan.
Baca juga: Ajari Warga Mengolah Pepaya, Misi Yuni Ciptakan UMKM Baru di Boyolali
Abon Pepaya Jadi Produk Unggulan
Yuni memilih menggunakan pepaya muda karena memiliki kandungan air yang lebih sedikit sehingga lebih mudah diolah menjadi berbagai produk makanan.
Selain itu, teksturnya juga tidak mudah hancur saat melalui proses memasak.
Saat ini, abon pepaya menjadi produk unggulan sekaligus yang paling banyak diminati konsumen.
Dalam sebulan, Yuni mampu menjual hingga 100 kilogram abon pepaya kemasan.
Produk olahannya pun telah dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Solo, Yogyakarta, hingga Jawa Barat.
"Kalau omzet perbulan tidak pasti ya. Tapi minimal Rp 5 juta," tukasnya.
(*)
| Ajari Warga Mengolah Pepaya, Misi Yuni Ciptakan UMKM Baru di Boyolali |
|
|---|
| Dari Karangnongko Boyolali ke Jogja, Jejak Abon Pepaya yang Diburu Konsumen |
|
|---|
| Sosok Wahyu Nugraheni, Emak-emak di Boyolali Sulap Pepaya Jadi Sumber Cuan |
|
|---|
| Perempuan di Karangnongko Boyolali Ubah Pepaya Mentah Jadi Camilan Premium |
|
|---|
| Kisah Marwanto Polisi Boyolali, Tak Cuma Jaga Keamanan, tapi Angkut Sampah Warga dan Membina Difabel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Wahyu-Nugraheni-43-warga-Desa-Karangnongko-Kecamatan-Mojosongo-Boyolali-ditemui-lalu.jpg)