Fakta Menarik Tentang Solo

Kapan Sekaten Solo Pertama Kali Digelar dan Bagaimana Asal Usulnya? Ternyata Ada Beberapa Versi

Upacara ini digagas oleh para Wali Sanga sebagai sarana dakwah, untuk menarik perhatian masyarakat Jawa yang saat itu lekat dengan Hindu-Buddha

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
TRIBUNSOLO.COM/Andreas Chris
SEKATEN SOLO - Keraton Solo Gelar Tradisi Tabuh Gamelan Sekaten di Masjid Agung. 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tradisi Sekaten pertama kali diselenggarakan pada abad ke-15, pada masa berdirinya Kerajaan Demak.

Upacara ini digagas oleh para Wali Sanga sebagai sarana dakwah, untuk menarik perhatian masyarakat Jawa yang saat itu masih lekat dengan tradisi Hindu-Buddha, sekaligus memperkenalkan ajaran Islam.

Salah satu cara yang digunakan adalah melalui kesenian gamelan, karena masyarakat Jawa sangat menyukai musik dan pertunjukan budaya.

Baca juga: Pasar Malam Sekaten di Alun-alun Kidul Keraton Solo Tuai Pro Kontra, Perizinan Masih Diproses

Sunan Kalijaga kemudian menciptakan seperangkat gamelan khusus bernama Kyai Sekati.

Gamelan ini ditabuh bertalu-talu di halaman Masjid 

Demak pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bunyi gamelan yang meriah membuat masyarakat berbondong-bondong datang.

Momentum berkumpulnya banyak orang itu pun dimanfaatkan oleh para wali untuk menyampaikan wejangan dan ajaran Islam.

Mereka yang hadir diajak mengucapkan syahadat, duduk di serambi masjid, atau berwudu di kolam yang ada di halaman masjid sebelum masuk.

Dengan cara inilah, ajaran Islam secara perlahan masuk dan diterima oleh masyarakat Jawa.

Terkait asal-usul nama Sekaten, terdapat beberapa versi:

  • Dari kata Sekati, merujuk pada nama gamelan pusaka “Kyai Sekati”.
  • Dari kata suka ati, bermakna senang hati.
  • Dari kata sesek ati, yang berarti sesak hati.
  • Dari kata Syahadatain, yakni dua kalimat syahadat.
  • Apa pun asal katanya, tujuan utama Sekaten tetap sama: memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi media dakwah Islam.

Hingga kini, tradisi ini masih hidup dan berkembang di Surakarta maupun Yogyakarta, menjadi bagian penting dari warisan budaya dan religi masyarakat Jawa.

Baca juga: Penjelasan Soal Sekaten oleh Keraton Solo Jateng, Bukan Hanya Sekadar Pasar Malam

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved