Fakta Menarik Tentang Solo
Kapan Sekaten Solo Pertama Kali Digelar dan Bagaimana Asal Usulnya? Ternyata Ada Beberapa Versi
Upacara ini digagas oleh para Wali Sanga sebagai sarana dakwah, untuk menarik perhatian masyarakat Jawa yang saat itu lekat dengan Hindu-Buddha
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tradisi Sekaten pertama kali diselenggarakan pada abad ke-15, pada masa berdirinya Kerajaan Demak.
Upacara ini digagas oleh para Wali Sanga sebagai sarana dakwah, untuk menarik perhatian masyarakat Jawa yang saat itu masih lekat dengan tradisi Hindu-Buddha, sekaligus memperkenalkan ajaran Islam.
Salah satu cara yang digunakan adalah melalui kesenian gamelan, karena masyarakat Jawa sangat menyukai musik dan pertunjukan budaya.
Baca juga: Pasar Malam Sekaten di Alun-alun Kidul Keraton Solo Tuai Pro Kontra, Perizinan Masih Diproses
Sunan Kalijaga kemudian menciptakan seperangkat gamelan khusus bernama Kyai Sekati.
Gamelan ini ditabuh bertalu-talu di halaman Masjid
Demak pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bunyi gamelan yang meriah membuat masyarakat berbondong-bondong datang.
Momentum berkumpulnya banyak orang itu pun dimanfaatkan oleh para wali untuk menyampaikan wejangan dan ajaran Islam.
Mereka yang hadir diajak mengucapkan syahadat, duduk di serambi masjid, atau berwudu di kolam yang ada di halaman masjid sebelum masuk.
Dengan cara inilah, ajaran Islam secara perlahan masuk dan diterima oleh masyarakat Jawa.
Terkait asal-usul nama Sekaten, terdapat beberapa versi:
- Dari kata Sekati, merujuk pada nama gamelan pusaka “Kyai Sekati”.
- Dari kata suka ati, bermakna senang hati.
- Dari kata sesek ati, yang berarti sesak hati.
- Dari kata Syahadatain, yakni dua kalimat syahadat.
- Apa pun asal katanya, tujuan utama Sekaten tetap sama: memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi media dakwah Islam.
Hingga kini, tradisi ini masih hidup dan berkembang di Surakarta maupun Yogyakarta, menjadi bagian penting dari warisan budaya dan religi masyarakat Jawa.
Baca juga: Penjelasan Soal Sekaten oleh Keraton Solo Jateng, Bukan Hanya Sekadar Pasar Malam
(*)
| Filosofi Kulonuwun yang Biasa Diucapkan Masyarakat Solo Raya saat Bertamu, Ternyata Ini Artinya |
|
|---|
| Dipercaya Masyarakat Solo Raya, Ini Keutamaan Menikah di Bulan Besar atau Dzulhijjah |
|
|---|
| Mengenal 12 Musim Pranata Mangsa Jawa, Pedoman Bertani Warisan Leluhur di Solo Raya |
|
|---|
| Kenapa Banyak Orang Solo Gemar Sarapan Lauk Olahan Kambing? Ternyata Ini Awal-mulanya |
|
|---|
| Kenapa Banyak Warga Solo Raya Gelar Acara Pernikahan di Bulan Dzulhijjah? Begini Asal-usulnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Tabuh-Gamelan-Sekaten-di-Masjid-Agung.jpg)